Seminar Series II :

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adakan seminar series bertemakan “Reproduksi pengetahuan berbasis anak muda”, Rabu (29/13) kemarin. Seminar kali ini bersamaan dengan kehadiran Direktur PTKI Kemenag RI, Prof. Dr. Nizar Ali.

Bertempat di ruang sidang lantai II FISHUM, Nizar Ali menyampikan materi tentang kebijakan arah pengembangan akademik PTKIN. Ia menegaskan bahwa beberapa elemen di Perguruan Tinggi harus mendapat dukungan. Seperti pentingnya dukungan dari pihak Dekan kepada Kaprodi.

“Dekan harus memberi support kepada pemimpin akademik. Karena, tenaga pengajar yang unggul menjadi salah satu ciri-ciri universitas kelas dunia,” Jelasnya.

Sementara itu, materi mengenai “Reproduksi pengetahuan berbasis anak muda”, disampikan oleh Akhmad Ramdhon, S.Sos., MA dan Achmad Uzair, MA., Ph.D. Dalam penyampaianya, Ramdhon memilih untuk mengambil tema mengenai pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa.

Menurutnya, pembelajaran bagi mahasiswa tidak hanya cukup di ruang kelas saja. Pembelajaran di luar kelas menjadi sangat penting. Karena, mahasiswa akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih banyak dari pada hanya duduk dan mendengarkan dosen di dalam kelas.

Ramdhon juga menjelaskan bahwa hasil dari praktek pembelajarannya di luar kelas di UNS tempat ia mengajar menghasilkan banyak karya. Selain karya ilmiah seperti buku, ia bersama mahasiswanya akhirnya mendirikan kampungnesia. Dimana, kajian mengenai kehidupan kampung-kampung yang berada di pusat kota menjadi konsentrasi utama mata kuliah yang diajarkannya. Beberapa media sosial baik IG, Twitter, FB (@kampungnesia) ia mafaatkan untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan dan karya mahasiswa.

Sementara itu, Achmad Uzair lebih menjelaskan bagaimana generasi milineal bisa menafaatkan kecanggihan teknologi. Mengingat, abad 21 dengan kecanggihan teknologi membuat masyarakat dan anak muda di dalamnya tidak bisa mengendalikan diri. Salah satu dampak yang paling terlihat ialah paniknya moral masyarakat demokrasi dengan adanya isu Hoax.

“Hoax bukan hanya kesenjangan fakta dan opini. Tetapi makin terlihat sejak berkembangnya internet. Internet juga bagian dari digital capitalism. Maka, solusi untuk mengatasi Hoax, semata-mata bukan hanya dengan deklarasi komunitas anti Hoax saja, namun yang lebih penting ialah kesdaran akan adanya digital capitalism. Sehingga dengan kesadaran itu, masyarakat menggunakan media sosial dengan bijak,” Ujarnya.

Tidak hanya pemateri, terlihat hadir dalam seminar kali ini, jajaran Dekanat Dr. Mochamad Sodik (Dekan FISHUM), Dr. Erika Setyanti Kusumaputri (WD I), Dr. Sabarudin (WD II), Dr. Sulistyaningsih (WD III), Jajaran LKM (DEMA-F, SEMA, HM-PS) serta beberapa perwakilan mahasiswa. (tri)

Berita Terpopuler