Mahasiswa FISHUM Ikuti Kegiatan Student Interfaith Peace Camp 2017

Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) regional Yogyakarta kembali menyelenggarakan Student Interfaith Peace Camp yang berlangsung pada tanggal 3-5 November 2017 di Youth Center Yogyakarta. Diikuti oleh 50 mahasisw dan mahasiswi berbagai kampus dari Yogyakarta maupun di luar pulau Jawa, seperti Makassar dan Ambon acara ini sukses diselenggarakan.

Kegiatan ini betujuan untuk membentuk agen-agen perdamaian dikalangan mahasiswa, mengingat kemajemukan Indonesia berpotensi besar menciptakan diskresi antar golongan suku, ras, terlebih agama. Target peserta dalam kegiatan ini adalah mahasiswa dan mahasiswi muslim dan kristiani. Karena faktanya, konflik yang terjadi dan berskala besar sering melibatkan dua kelompok agama tersebut, seperti kasus konflik islam-kristen yang terjadi di Ambon beberapa tahun lalu.

Syaifuddin Sholeh Tsani yang merupakan mahasiswa prodi Sosiologi UiN Sunan Kalijaga merasa sangat penting mengikuti kegiatan ini. Mahasiswa sebagai agent of change perlu memondasikan diri agar tidak terjerat paham radikal yang kerap melatarbelakangi terjadinya konflik keagamaan. “Saya sebagai pemuda islam merasa perlu untuk menyelesaikan ini, mengklarifikasi kepada kawan-kawan kristiani bahwa kami (islam) bukan teroris seperti yang mereka sangkakan selama ini,” jelasnya.

Selain mempelajari nilai-nilai perdamaian, dalam kegiatan ini peserta juga diajarkan untuk memahami ajaran agama lain dengan dialogue interfaith agar menciptakan toleransi pemuda antar agama dan mengklarifikasi prasangka-prasangka yang selama ini membumi akibat tindakan oknum-oknum yang melakukan kekerasan atas nama agama demi mewujudkan kepentingan kelompoknya. Selain itu, peserta juga diajak untuk bersama membaca dan memahami kitab suci agama lain agar dapat memahami langsung bahwa pada dasarnya semua agama mengajarkan perdamaian dan kasih sayang.

Diakhir acara, peserta diberi pemahaman bagaimana harus meminta maaf dan memberi maaf dengan tepat dan untuk menyelesaikan setiap luka hati yang disebabkan oleh prasangka terhadap agama lain dalam bentuk “curahan hati” yang ditutup dengan saling memaafkan antar umat beragama atas apa yang selama ini menjadi prasangka didalam masing-masing umat beragama.

Kegiatan ini bukanlah yang pertamakalinya dan akan terus diselenggarakan setiap semesternya agar semakin banyak lagi peacemaker yang menebarkan perdamaian dimanapun mereka berada. Hal itu disampaikan oleh koordinator YIPC regional DIY-Jateng Riston Batuara pada saat penutupan acara. “Saya berharap setelah ini teman-teman tetap bisa menjadi peacemaker yang selalu membawa perdamaian dimanapun teman-teman berada” ungkapnya. (Syaifuddin)

Berita Terkait

Berita Terpopuler