Diseminasi Hasil Riset “Kualitas Program Siaran Televisi dan Digitalisasi Penyiaran di Indonesia: Urgensi dan Tantangannya”

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta usai mengadakan Diseminasi Hasil Riset bertajuk “Kualitas Program Siaran Televisi dan Digitalisasi Penyiaran di Indonesia: Urgensi dan Tantangannya”. Acara ini digelar pada Selasa (2/11) pagi, di Hotel Harper, Yogyakarta dan disiarkan melalui live YouTube. Acara ini menghadirkan beberapa pihak seperti Dekan FISHUM, Wakil Rektor bidang Akademik, dan tiga narasumber lainnya yakni Hardly Stefano, S.E., M.KP. (Komisioner KPI Pusat), Agnes Dwirusjiati, S.Pd. (Komisioner KPID DIY), dan juga Dr. (Cand) Drs. Bono Setyo, M.Si. (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISHUM, Direktur ComTC dan Pengendali Riset DIY).

Dalam sambutannya, Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. Dekan FISHUM UIN Sunan Kalijaga berterimakasih kepada semua pihak sehingga terselenggaranya acara ini. Beliau berharap, riset kolaboratif seperti ini bisa terus dilakukan. “Acara ini merupakan acara yang menarik. Hasil riset yang dipaparkan mengenai Kualitas Program Siaran Televisi dan Digitalisasi Penyiaran di Indonesia: Urgensi dan Tantangannya merupakan tema yang sangat relevan dengan masyarakat,” tuturnya.

Prof. Dr. Iswandi Syahputra, M.Si., selaku keynote speaker mencoba menjelaskan mengenai regulasi pengawasan konten siaran. Menurutnya, posisi KPI dalam mengatur hal-hal yang berkaitan dengan siaran sangatlah vital. Dalam hal ini, ia menyebutkan adanya beberapa siaran yang kualitasnya masih di bawah standar, seperti infotainment dan sinetron. Oleh karena itu, penting untuk KPI mengawasi kualitas konten siaran dan menguatkan otoritasnya sebagai regulator.

“Tantangan untuk KPI yaitu berhadapan dengan pemangku kepentingan rakyat agar mengusahakan regulasi yang tepat untuk masyarakat,” ungkapnya.

Di sisi lain, narasumber pertama, Hardly Stefano, S.E., M.KP. (Komisioner KPI Pusat) membenarkan adanya program siaran yang masih belum memenuhi standar kualitas. Selain memaparkan dengan cukup rinci terkait hasil riset mengenai penyiaran di Indonesia, ia juga menegaskan bahwa diseminasi hasil penelitian harus tetap dilaksanakan secara berkala, dengan penyampaian yang lebih santai sehingga dapat diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Adapun narasumber kedua, yakni Agnes Dwirusjiyati, S.Pd., M.H selaku Komisioner KPI Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan terkait hasil riset KPI untuk masyarakat DIY. Kesimpulannya, masih ada tayangan yang belum melakukan penghormatan atas suku dan ras, juga penghormatan terhadap kelompok rentan. Sementara itu, Dr. (cand) Drs. Bono Setyo, M.si. selaku narasumber ketiga cenderung berfokus pada ambiguitas antara edukasi atau komersialisasi pada program siaran religi.

Selain pemaparan dari para narasumber, dalam acara ini FISHUM juga menghadirkan beberapa informan riset untuk memberikan testimoninya. Pertama, ada Nadhiroh, S.Sos. I, M.I.Kom dari cluster berita dan Talkshow. Kedua, Nanang Mizwar Hasyim, S.Sos, M.Si. dari cluster infotainment dan variety show. Ketiga, Zamzani Ulwiyati Darojad, S.Ag. dari cluster tayangan anak dan sinetron. Dan keempat, Khoiro Ummatin, S.Ag, M.Si. dari cluster produk siaran religi dan wisata budaya. (Natasyha/Tim Kreatif)