Seminar Series : Tantangan Psikologi Profetik di Era Disruptif

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Muslim and Global Affairs (MoGA) Institute mengadakan Seminar Series (19/10/2018). Seminar yang berlangsung di Ruang Sidang Lantai II FISHUM ini mengangkat tema Tantangan Psikologi Profetik di Era Disruptif.

Kali ini, seminar yang juga dihadiri oleh mahasiswa diisi oleh Drs. KH. Hamdani Barkran Adz-Dzakiey (Pengasuh Ponpes Raudhatul Muttaqien, Yogyakarta, Trainer Psikologi Profetik), M. Johan Nasrul Huda, S.Psi., M.Si (Dosen Psikologi FISHUM UIN Sunan Kalijaga) serta dimoderatori oleh Hj. Satih Saidiyaj, Dipl., Psy., M.Si

Selain dihadiri oleh Dr. Mochamad Sodik S.Sos., M.Si Dekan FISHUM, Dr. Yayan Suryana (Ketua MoGA), Dr. Sulistyaningsih (WD III), dosen serta mahasiswa, seminar kali ini juga dihadiri dan dibuka langsung oleh Prof. Dr. K.H Yudian Wahyudi selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga. Menurutnya, nilai-nilai spiritualitas dalam kajian keilmuan itu sangat penting. Karena di era ini, umat Islam cenderung kehilangan nilai-nilai spiritualitas.

Beliau menjelaskan bahwa nilai-nilai spiritualitas menjadi sangat penting bagi umat Islam karena banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. “Salah satu hikmah wudhu adalah mengorientasikan umat Islam ke pusat-pusat air. Yang berarti pusat-pusat pertanian. Yang berarti pula pusat-pusat ekonomi agraris, yang berarti pula pusat kekuasaan dan yang berarti sebagai pusat peradaban,” imbuhnya.

Drs. KH. Hamdani Barkran Adz-Dzakiey juga menegaskan pentingnya ilmu Psikologi Profetik sebagai bagian dari kolaborasi antara ilmu-ilmu kejiwaan dari barat dengan ilmu Psikologi Islam. Bagaimanapun Setinggi-tingginya rasionalitas merupakan pintu menuju spiritualitas.

Sejak tahun 1985 hingga hari ini kami sudah banyak menerima limpahan kasus gangguan mental atau psikologis dan spiritual yang belum mampu dengan tuntas diselesaikan oleh Ilmu Kejiwaan atau Psikologi pada umumnya,” jelasnya. Fenomena unik yang terjadi di masyarakat kita ialah bahwa mereka tampak sebagai orang yang beriman dan muslim. Mereka solat, berpuasa, berzakat, berulang-kali beribadah haji dan umrah. Tetapi fakta yang terjadi ibadah yang mereka lakukan tidak berdampak kepada perilaku mereka terhadap sesama.Menurutnya, Psikologi Barat hanya mampu mengkaji terkait dengan ilmu kejiwaan, sedangkan Psikologi Profetik tidak hanya mengkaji terkait dengan ilmu kejiwaan tetapi jiwa dalam makna spiritualitas itu sendiri.

Sementara itu, M. Johan Nasrul Huda, S.Psi., M.Si sebagai narasumber kedua menjelaskan bahwa era disrupsi (ketidakpastian) juga menjadi tantangan bagi keilmuan Psikologi. Khususnya bagi generasi milenial yang cenderung dikategorikan sebagai generasi yang penuh Confident dan mampu beradaptasi dengan mudah. Tetapi dengan ini, tantangan yang dimiliki oleh generasi milenial menjadi semakin kompleks, salah satu nya penting memiliki kekuatan inovasi sosial, Disrupsi Sosial serta adanya Disrupsi Identitas. (tri)

Berita Terpopuler