Kebangsaan, Globalisasi dan Revolusi 4.0

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Seminar Series (26/12/2018). Seminar Series yang berlangsung di Ruang Sidang lantai 2 FISHUM kali ini terlihat menarik. Tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa dan Dosen FISHUM, tetapi juga dihadiri oleh dosen dan mahasiswa lintas Fakultas dan lintas Universitas seperti Universitas Janabadra.

“Semoga melalui kegiatan ini kita menjadi bagian penting dari sesuatu yang besar,” tutur Dekan FISHUM Dr. Mochammad Sodik S.Sos., M.Si., saat membuka acara seminar series kali ini. Mengangkat tema Kebangsaan, Globalisasi, dan Revolusi Industri 4.0 menurut Dekan FISHUM diselenggarakan sebagai respons perkembangan jaman. Sebagai akademisi, perkembangan yang terjadi begitu cepat tanpa batas ruang dan waktu memang harus diamati dan dikaji lebih dalam.

Narasumber seminar series kali diisi oleh Ketua Ikatan Keluarga Alumni LEMHANNAS Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAL-DIY), Sugiyanto Harjo Semangun, S.E, M.Si, dan Dr. Phil. Ahmad Norma Permata, M.A selaku Dosen Sosiologi FISHUM UIN Sunan Kalijaga. Dalam materinya, Dr. Phil. Ahmad Norma menjelaskan beberapa proses revolusi yang terjadi. Pertama, yakni revolusi Sedentary yang diawali dengan lahirnya kelas militer.

Revolusi kedua yakni revolusi industri lahirnya mesin sehingga terjadi produksi massal dan lahirnya Kelas buruh. Revolusi ketiga yakni otomatisasi yang ditandai dengan lahirnya komputer, lahirnya kelas pintar tanpa belajar (smart gadgets, unsmart users). Terakhir dan yang sedang terjadi kali ini ialah revolusi digitalisasi yakni lahirnya artificial intelligence, mesin pembelajar, lahirnya kelas tak berguna (seluruh tugasnya diambil alih robot).

“Jadi sekarang kita kembali ke langit. Cukup dengan tanya ke ‘mbah google’ semua terjawab. Cara menggunakannya pun nggak perlu (orang) pinter-pinter, bahkan anak-anak juga bisa. Tak heran jika suku-suku di pedalaman sudah punya website. Artinya mereka punya akses kerjasama dengan pihak luar,” jelasnya.

Sementara itu, Sugiyanto (Ketua IKAL DIY) menjelaskan materi terkait dengan tantangan dari revolusi industri 4.0 itu sendiri. Revolusi Industri 4.0 cenderung memperkuat globalisasi dengan berbagai inovasi negara-negara kuat. Revolusi 4.0 memiliki kecenderungan berdampak negatif bagi Indonesia jika Indonesia tidak memiliki kemampuan adaptif dan transformatif dengan baik. “Sebagai Bangsa dan Negara, Indonesia harus mampu menjawab tantangan tersebut dengan sikap optimis, karena DNA kita sebagai manusia nusantara ini adalah petarung atau pejuang,” jelasnya.

Seminar series kali ini dimoderatori langsung oleh Niken Puspitasari, S.I.P., M.A, Dosen Ilmu Komunikasi FISHUM UIN Sunan Kalijaga. Terlihat hadir dalam seminar kali ini Dr. Sulistyaningsih S.Sos., M.Si Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Dra. Budhi Susilowati Kepala Bagian Tata Usaha. Seminar Series kali ini juga bekerja sama dengan bekerjasama dengan IKAL DIY dan Moslems and Global Affairs (MOGA). (tri)

Berita Terpopuler