Pemilu dan Demokrasi Kita: Antara Media Sosial, Hoaks, dan Politik Identitas

Center of Communication Studies and Training (ComTC) dan Radio Republik Indonesia (RRI) menggelar Talkshow dan Dialog Interaktif (20/03/2019). Bertempat di Ruang Interactive Center (IC) Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga, Talkshow dan Dialog Interaktif membahas mengenai pemilu dan demokrasi.

Tema yang diangkat ialah Pemilu dan Demokrasi Kita (Antara Media Sosial, Hoaks dan Politik Identitas). Talkshow dan Dialog Interaktif kali ini mengundang beberapa narasumber, yakni Dr. Zuly Qodir (Dosen Pascasarjana UMY), Dr. Inayah Rohmaniyah (Dosen UIN Sunan Kalijaga) dan Bono Setyo, M.Si (Direktur ComTC Yogyakarta).

Dr. Mochamad Sodik S.Sos,. M.Si., dalam sambutannya menjelaskan bahwa demokrasi dan juga pemilu adalah sebuah tantangan bagi kita semua. Apalagi dengan adanya isu hoaks yang beredar. “Namun kita semua adalah pejuang untuk melawan hoaks. Kita harus bekerjasama terus-menerus untuk melawan hal tersebut. Sehingga, bibit tentang kebencian bisa kita minimalisir.” Tutur Dekan FISHUM.

Dalam hal ini, UIN Sunan Kalijaga sebagai salah satu PTKIN memiliki tanggungjawab kebangsaan dan keislaman yaitu mewujudkan NKRI yang beradab dan islam yang rahmatan lil’alamin. Sehingga, isu hoaks harus menjadi isu utama yang dilawan oleh seluruh elemen yang ada di UIN. Baik mahasiswa maupun dosen dan civitas akademika secara umum.

Hal senada dengan Dekan, Dra. Redno Desy Swasri selaku kepala Radio RRI dalam sambutannya juga menjelaskan bahwa RRI dan UIN melakukan kerjasama yang baik. Beberapa kegiatan serupa, yakni diskusi interaktif juga dilakukan oleh RRI bekerja sama dengan universitas dan sekolah yang ada di Jogja. Sebagai lembaga penyiaran, RRI memberikan suatu informasi, komunikasi khususnya pemilu 2019.

“Beberapa hari lagi kita akan bersama-sama berjalan menuju 17 Aprli 2019. Tag line kami ialah cerdas memilih, memilih adalah juara. Kami memberikan informasi kepada pemilih pemula sehingga tidak golput.Setelah cerdas, mereka akan memilih karena memilih adalah juara,” katanya saat sambutan di acara yang sama.

RRI menurutnya memiliki banyak program, program pertama adalah pemberdayaan masyrakat, kedua untuk anak muda dan mahasiswa dan juga untuk untuk teman-teman mahasiswa. Kami juga terbuka bagi mahasiswa jika ingin penelitian. Ketiga, RRI juga ingin mengetahui berita-berita yang ada di Jakarta. Keempat, siaran budaya. Di mana, anak muda mencintai budaya.

“Kami juga punya RRI net yang ada siaran budaya dan music live. Mudah-mudahan, kerjasama anatara RRI dan UIN membawa manfaat terutama dalam informasi dan motivasi,” imbuhnya.

Menurut Dr. Zuly Qodir, terdapat dua hal yang menjadi persoalan pada pemilu tahun ini. Berdasarkan hasil riset tahun 2015-2017, isu tentang etnis dan agama di tingkat nasional merupakan isu yang kurang laku. Penelitian tersebut dilakukan oleh bagian akademik yang ada di Indonesia maupun yang ada di luar negeri. Sehingga yang dijual adalah isu tentang tenaga kerja asing dan ideologi komunisme.

“Isu tentang komunisme dan tenaga kerja asing dijual karena isu agama dan etnis tidak laku. Jika terdapat orang yang percaya bahwa salah satu capres komunis dan non Islam maka orang tersebut adalah rabun, sudah dipastikan rabun,” jelasnya.

Terkait dengan politik identitas dalam pemilu, Dr. Inayah Rohmaniyah menjelaskan bahwa dari sisi keagamaan, berdasarkan research UIN Syarif Hidayatullah, generasi milenial memiliki tradisi yang unik. Mereka belajar agama, 54,87% menurut survei mereka belajar dari internet. Menurutnya, persoalan yang terjadi ketika mereka belajar dari internet ialah rendahnya pemahaman keagamaan.

“Kecenderunganya lebih bersifat sempit, konservatif dan anti pluralitas. 94% hoaks tersebar melalui medsos dan mayoritas 57% pengguna medsos adalah anak-anak remaja diusia 18- 34 tahun . 80% pengguna internet ini adalah anak-anak muda. Pada zaman 4.0, era disrupsi menjadi tantangan buat kita. Era disrupsi ini orang lebih percaya pada hal-hal yang lebih menggugah emosi,” jelasnya.

Sementara itu, Bono Setyo, M.Si., selaku Direktur ComTC, dalam presentasinya menyatakan bahwa perlu ada kecerdasan untuk menanggapi isu hoaks. Lalu bagaimana upayanya?.

“Berbicara mengenai literasi media, maka fenomena pemilu kali ini beda dengan pemilu sebelumnya. Pemilu adalah pesta demokrasi yang rutin diadakan di Indonesia. setiap tahapan pemilu selalu ada fenomena masing-masing. Setiap tahapan pemilu itu selalu ada fenomena masing-masing,” katanya.

Terdapat dua hal dalam pemilu kali ini, yakni fenomena hoaks dan politik identitias. Hoaks dilakukan oleh pengguna internet. Berdasarkan data dari kemeterian Komunikasi dan Informasi, ada 170 juta dari 260 juta penduduk Indonesia memiliki handphone. Inilah era euforia media sosial.

“Kita mengalami sebuah evolusi media, dari media cetak ke media elektronik yaitu radio, setelah radio muncul televisi, kemudian media sosial. 170 juta pendudk pengguna media sosial dan hampir 50% adalah generasi milenial. Data dari dewan pres, ada 800 ribu situs penyebar hoaks yang merajalela,” imbuhnya lagi.

Ada tiga hal yang menjadi penyebab utama dalam penyebaran hoaks. Pertama, budaya masyarakat kita yaitu suka berbicara yang tidak penting. Kedua, Dukungan media sosial ( bibit dari hoax adalah kecemburuan, iri dan dengki). Terakhir yakni rendahnya literasi media.

Talkshow dan Dialog Interaktif ini terlihat menarik. Tidak hanya berlangsung di Ruang Interactive Center FISHUM saja, tetapi juga disiarkan langsung dan mengudara di RRI Yogyakarta. Talkshow kali ini dipandu oleh Niken Puspitasari, M.A. Dosen UIN Sunan Kalijaga dan Fetika Andriyani S.Sos salah satu penyiar di RRI. (titik)

Berita Terpopuler