Kamis, 8 Juni 2017 11:53:32 WIB Dilihat : 92 kali

Berbicara mengenai Kapitalisme, tentu tidak terlepas dari peran negara-negara barat. Apalagi dalam sejarahnya, Kapitalisme memang lahir dari praktik-praktik yang terjadi pada abad pertengahan dari negara-negara barat.

Selain itu, sekitar abad ke-20, kiblat masyarakat kapilatis ialah negara adidaya yaitu Amerika. Bahkan opini media masa yang beredar di sebagaian negara berkembang ialah Amerika sebagai negara yang memiliki kekuatan dan memegang peranan penting dalam berjalannya ekonomi global. Namun apakah dalam konteks Indonesia, sistem ekonomi mengacu 100% pada Amerika?.

Hal ini disampaikan oleh Mr. Dennis Fromm, M.A dari Goethe-University, Frankfurt-Germany saat menjadi pembicara dalam acara Public Lecture yang diselenggarakan olah Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga, Rabu (07/06) kemarin. Public Lecture kali ini diselenggarakan di Interactive Center FISHUM UIN Sunan Kalijaga.

Dengan tema "The Indonesia-China Paradox: Indonesian's Variant of Capitalism its embedding and its contras to China" Dennis menjelaskan hasil penelitiannya dalam konteks Indonesia. Menurutnya, sistem ekonomi dalam konteks masyarakat Indonesia tidak serta merta mengadopsi sistem dari negara Amerika. Namun, Indonesia memiliki sistem ekonomi campuran termasuk mengadopsi sistem ekonomi dari negara China.

Apalagi dengan sistem ekonomi yang stabil dari China yang tidak berasimilasi dengan kapitalisme liberal. Hal ini yang dapat berimplikasi ekonomi negara lain salah satunya Indonesia. “The Implication is Chinese economic system is stable and will not assimilate to liberal style capitalism. Same applies for various other economies such as Indonesia,” Jelasnya.

Menurut Hani Hanaya, S. Ikom selaku moderator dari Deggendorf University, Bavaria-Germany, Indonesia harus tetap teguh dalam pendirianya. Apalagi dengan keadaan adat istiadat yang multikultur, masyarakat Indonesia harus tetap jujur dengan dirinya sendiri dan tidak mudah meniru 100% apa yang dilakukan negara lain.

“You have to be honest in your self and your country. What is good what is bad. You have critical also in many idea. In germany. Kita harus jujur, g usah malu g usah genksi, jangan mengidolakan. Ini pelajaran. Kita harus menempatkan sesuatu pada proporsi. G boleh berlebihan. Itu bukan nabi, apalagi tuhan. Harus ada proposinya,” Jelas Hani saat membantu menerjemahkan apa yang dikatakan oleh pemateri.

Terlihat hadir dalam acara kali ini Dekan FISHUM Dr.Mochamad Sodik, Wakil Dekan III Dr. Sulistyaningsih, LKM baik DEMA-F maupun HM-PS serta puluhan mahasiswa Prodi Sosiologi, Ilmu Komunikasi dan Psikologi. (tri)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom