Rabu, 27 April 2016 12:10:08 WIB Dilihat : 587 kali

Saya Perempuan Anti korupsi (SPAK) telah sukses dalam menggelar dua acara besar. Acara yang pertama adalah seminar yang digelar di Convention Hall Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada hari rabu, 20 April 2016. Acara kedua, digelar pada keesokan harinya. Yaitu pada hari kamis, 21 April 2016.

Seminar di Convention Hall Universitas Islam Yogyakarta yang bertemakan “Kartini Sebagai Spirit Gerakan Perempuan Anti Korupsi” dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta seminar. Antusias peserta pun membeludak, karena selain tema seminar yang menarik pembicara yang dihadirkan juga berkompeten. Pembicara pada acara tersebut antara lain Alissa Wahid (Aktifis Perempuan), Hafdzil Alim (Dosen Ilmu Hukum UIN SUKA), serta Dra. Siwi Iriyanti (Staf Ahli Bidang keuangan Pemda Gunung Kidul).

Mengingat perempuan sebagai bagian dari sebuah perubahan, penanaman karakter yang baik terutama perempuan perlu dilakukan. Semangat kartini yang diusung SPAK juga bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat Kartini yang sesungguhnya. Semangat untuk menyadarkan perempuan akan pentingnya peran diri sebagai perempuan. Apalagi di era sekarang, yang tentunya arus Globalisasi dan Internalisasi budaya dari luar sangat sulit untuk dibendung. Terutama Budaya konsumtif yang cenderung menyerang kaum perempuan. Dan tentunya budaya konsumtif akan menjadikan seorang perempuan itu sendiri cenderung berperilaku eksploitasi terhadap sumber daya alam yang ada.

Jiwa Revolusioner yang dimilki sosok kartini inilah yang ingin dilahirkan kembali oleh gerakan SPAK terutama SPAK jogja. Khususnya diranah pencegahan terhadap Korupsi. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Korupsi sudah barang tentu merugikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Terutama masyarakat kelas bawah.

Selain acara tersebut, acara yang kedua juga tidak kalah menarik. Gerakan SPAK jogja mengumpulkan seratus orang relawan berasal dari semua kalangan untuk membagikan mini notes, pin serta sticker ke lima titik kota Jogja. Antara lain: Tugu, UGM, UNY, UIN, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI UIN SUKA). Acara yang bekerja sama dengan Dewan Eksekutif Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora ini, berakhir di 0km kota Jogja dengan tanda tangan di sebuah kain putih dari masyarakat sebagai tanda pentingnya kesadaran untuk mencegah korupsi terutama bagi perempuan itu sendiri. Yang dilakukan setalah semua relawan disetiap titik Jogja selesai membagikan souvenir dan mensosialisasi SPAK.

Dengan bersamaanya Hari Kartini, acara ini juga bertujuan untuk merayakan ulang tahun SPAK yang kedua, yang kebetulan jatuh pada tanggal 21 April. Menurut sekertaris SPAK Jogja Mila Oktaviannisa menyatkan bahwa, pada mulanya SPAK ini berdiri pada tanggal 22 April 2014. Tempatnya di Nusa Tenggara Barat. Namun kemudian dengan berjalannya waktu gerakan SPAK disetujui oleh seluruh gerakan yang ada di Indonesia untuk menjadikan tanggal 21 April sebagai hari lahir SPAK. Karena tanggal 21 April sendiri bertepatan dengan Hari Kartini.

Ia menjelaskan bahwa Spirit pencegahan korupsi inilah yang melatarbelakangi kata “Perempuan” dalam singkatan SPAK. Mengingat menurut beliau, Perempuan berperan besar dalam sebuah keluarga dan pembentukan karakter paling utama. Kegelisahan perempuan untuk ikut andil dalam pencegahan korupsi juga menjadi salah satu faktor berdirinya SPAK. Karena selain merusak bangsa, korupsi juga salah satu borok terburuk bagi hancurnya sebuah bangsa. bukan saja dalam bentuk materil, namun dalam bentuk non materil juga. Seperti kerusakan norma dan nilai seorang individu.

Selain bekerja sama dengan DEMA FISHUM, acara SPAK Jogja kali ini juga bekerja sama dengan GPMK (Gerakan Pemuda Melawan Korupsi). GPMK sebagai gerakan yang bertujuan sama dengan SPAK (melawan korupsi) sangat membantu suksesnya acara ini. Mengingat relawan dari GPMK sendiri ikut serta dalam pembagian souvenir di lima titik kota Jogja. Meskipun acara ini diadakan oleh SPAK, namun relawannya tidak hanya datang dari perempuan. Namun banyak juga relawan dari GPMK dan juga anggota DEMA FISHUM (laki-laki) juga mengikuti acara ini.

Koordinator GPMK Ahmad Riyanto, mengapresiasi acara ini. Menurutnya acara ini sangat berkesan. Apalagi banyak dari kalangan mahasiswa yang memang hadir sebagai “Agent Social of Change” yang juga memiliki antusias yang sama dengan relawan SPAK. Ini menjadi spirit yang positif bagi perubahan yang lebih baik.

“korupsi ada disekitar kita. Bukan waktunya ngomongin koruptor dan menghujatnya. Tapi saatnya kita sendiri yang bergerak melawan korupsi, bergerak menjegahnya. Tentunya mulai dari diri kita sendiri dan mulai saat ini”. Begitulah pesan dari koordinator SPAK Mila Oktaviannisa, saat di temui penulis di warung kopi blandongan sorowajan.

Semangat seperti ini perlu dimiliki setiap individu. Bukan hanya perempuan, pemuda, maupun kalangan akademisi saja. Namun semangat seperti ini juga harus di miliki oleh seluruh masyarakat Indonesia. Melalui gerakan-gerakan seperti SPAK, GPMK serta gerakan-gerakan lain yang mempunyai spirit yang sama, spirit kartini bagi perempuan Indonesia. Sehingga Indonesia bisa menciptakan bangsa yang dapat mensejahterakan seluruh masyarakat. Bukan hanya pejabatnya saja yang sejahtera. #YukKitaJujur (tri)

Oleh: Tri Muryani, Sosiologi 2015 FISHUM

Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom