Bedah Buku Pemikiran FISHUM 2021, Menuju Masyarakat Indonesia 5.0: Perspektif dan Dinamika

Sebagai sebuah negara dengan kultur masyarakat yang kompleks dan dinamis, Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan teknologi. Perkembangan teknologi seringkali diharapkan menjadi peluang untuk mempermudah berbagai aktivitas. Pertanyaan yang muncul dalam konteks ini adalah apakah setiap elemen dalam masyarakat telah siap dan memiliki kemampuan untuk menyerap teknologi sebagai care tools dalam setiap bidang kehidupan?

Menanggapi hal ini, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga mengadakan diskusi sekaligus launching buku Buku Pemikiran FISHUM 2021. Buku dengan judul “Menuju Masyarakat Indonesia 5.0: Perspektif dan Dinamika” merupakan buku yang berupaya untuk menggambarkan berbagai perspektif Sosiologi, Psikologi, dan Ilmu Komunikasi terkait dengan isu teknologi dan masyarakat 5.0. Launching buku dan diskusi kali ini berlangsung di Interactive Center FISHUM UIN Sunan Kalijaga pada Hari Rabu, 21 September 2022.

Mewakili Dekan FISHUM Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Sulistyaningsih, M.Si. menjelaskan bahwa kehadiran buku ini merupakan respon perubahan paradigma dari masyarakat 4.0 ke 5.0. “Ini merupakan gebarakan baru yang di inisai jepang dari tenaga manusia digantikan oleh teknologi. FISHUM harus merespon secara cepat untuk menumbuhkan iklim akademik di FISHUM,” jelansya. Maya Sandra Rosita Dewi, S.Sos., M.I.Kom. Dosen Prodi Ilmu Komunikasi sekaligus menjadi ketua panitia sekaligus acara ini mengucapkan terimakasih pada seluruh panitia baik Dosen dan Tenaga Kependidikan yang mengikuti dan ikut serta menyukseskan agenda penulisan Buku Ilmiah seri III.

Acara ini kemudian dipandu oleh Dwi Nur Laela Fithriya, S.IP., M.A. Dosen Prodi Sosiologi. Narasumber pertama Dr. Rama Kertamukti, M.Sn. selaku Kaprodi Ilmu Komunikasi menjelaskan bahwa sebagai editor buku, beliau melihat 5.0 ini pusatnya ada di Jepang dengan tujuan untuk memudahkan rakyatnya. “Kita disini masih berkutat dalam 4.o dan internet of things. Sedangkan Jepang sudah menjadi negara teknologi termaju di asia. Jepang meciptakan AR (Augmented reality) untuk memenuhi kebutuhan yang belum tercapai termasuk kasih sayang,” jelasnya.

Menurutnya, data atau tulisan apapun akan menjadi menarik menjadi suatu artikel yang “menarik” adalah yang di baca dan semuanya harus berbasis data. Ini yang menjadi dasar pemikiran dari masyarakat Jepang. “Penelitian llmu sosial menarik jika ditarik data dari 5 tahun terakhir. Kita perlu menemukan kebaruan atau novelty, kita harus mencari celah agar dibaca orang. Intinya sebagai editor saya juga harus membaca tema, dan saya harapkan penulis buku selanjutnya kita harus peka terhadap trend yang ada. Apa yang kita teliti kaitannya dengan apa yang kita konsumsi, aturan dan materi yang ada dan direpresantisikan menjadi apa, serta identitas apa yang akan ditujukan,” imbuhnya.

Ui Ardininggar M.A. Dosen Prodi Sosiologi melihat society 5.0 dan melihat teknologi melalui perspekti Ibn Khaldun, bahwa ini menjadi arah baru bagi perkembangan masyarakat sekarang ini. “Teknologi menjadi tools pemberdayaan masyarakat diberbagai bidang kehidupan, mulai dari ekonomi, birokrasi, kesehatan, sosial, keluarga, pendidikan dan sebagainya,” jelasnya. Menurutnya, melalui perpspektif Ibn Khaldun melihat ini sebagai sarana bertahan dari kehidupan manusia. “Ibn Khaldun juga menyebut teknologi sebagai tingkkat kemajuan Pendidikan, dan teknologi merupakan sebuah produk dari kemjuan berpikir manusia. Ibn Khaldun menyebut ini sebagai warna peradaban. Dilihat dari pandangan Ibn Khaldun teknologi bisa menjadi alat yang bisa menyelesaikan persoalan manusia,”imbuhnya.

Melanjutkan penjelasan mengenai buku ini, Sabiqotul Husna, M.Sc. Dosen Prodi Psikologi menyampaikan bahwa Artificial Intellegence (AI), sekarang ini sudah sering dimanfaatkan dalam kehidupan manusia bahkan dalam ranah psikologi. AI memang diciptakan untuk menggantikan pekerjaan yang dikerjakan manusia kemudian digantikan oleh computer atau AI. “Ada pro dan kontra dalam hal ini, konteks di Indonesia akses untuk kesehatan mental sendiri utamanya dalam rasio antara pasien dan penanganan belum seimbang. AI disini bukan untuk menggantikan manusia sebagai penyedia layanan kesehatan, AI bukan merupakan alat namun tidak bergantung pada teknologi AI ini,” jelasnya.

Menurutnya lagi, ada peran manusia untuk menentukan jadwal pertemuan, atau sejauhmana intervensi perlu dilakukan. “Kita masih perlu masukkan dari pihak yang kompeten dalam penerapan AI ke masyarakat umum dan perlu pandangan dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan. Pengembangan AI diharapkan tidak berhenti sampai disini, kita tidak bisa menghindari dan untuk menguasai AI kita mau tidak mau harus mempelajari agar bisa mengendalikan dan tidak tergantikan peran kita. Tujuan dari penggunaan Ai ini harus bersandar pada etik dan meminimalisir resiko kaitannya dengan penggunaanya terhadap manusia,” imbuhnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi menarik yang diinisiasi oleh Alip Kunandar, M.Si. Dosen Prodi Ilmu Komunikasi yang dalam hal ini pemantik diskusi. (tri)