Buruh Kasar dipinggir Trotoar
Oleh : Handini
Jakarta, dengan segala daya tariknya menarik siapa saja untuk tinggal dan mengadu nasib didalamnya tak terkecuali mereka yang tak punya bekal pendidikan memadai. Berharap rupiah jatuh dipangkuan setelah lelah apa saja yang dikerjakan. Sejak menetap sementara di Jakarta pada medio 2015-2019 saya sering pulang ke kampung halaman dengan menaiki bus antar kota di U-Turn Pasar Rebo dengan menaiki bus ekonomi Warga Baru trayek khusus Kampung Rambutan – Pagaden Subang yang selalu penuh saat akhir pekan.
U-Turn Pasar Rebo sebetulnya bukan terminal, hanya saja banyak calon penumpang memanfaatkan melambatnya kendaraan untuk putar balik dan letaknya yang cukup strategis dintara jalan raya Pasar Kramat Jati arah Bogor dan toll JORR. Para calon penumpang ini biasanya para buruh lepas ataupun buruh informal dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan penumpang lainnya yang tak sanggup berlama-lama didalam bus yang ngetem di terminal Kampung Rambutan, jadilah U-Turn ini yang menjadi terminal dadakan karena pasti setelah naik bus akan langsung masuk toll JORR.
Dengan barang bawaan yang khas, tas ransel dan kardus entah berisi oleh-oleh atau hanya sekedar baju ganti oleh karena biasanya mereka hidup nomaden di Jakarta, ya benar nomaden sesuai pekerjaan apa dan dimana lokasinya mereka pun berpindah. Dalam suasana terik dan bising para calon penumpang ini berjajar tak jarang kadang berhimpitan di trotoar. Ibarat ada setetes madu jatuh diantara kerasnya aspal, selain calon penumpang U-Turn ini pun penuh dengan para pengasong, pengamen, lapak buah-buahan, ojek online hingga calo yang memanfaatkan kondisi ‘pasar’ jalanan yang ada. Sudah barang tentu ini menjadi pemandangan klasik sejak dulu U-Turn Pasar Rebo menjadi tempat transit sementara para pejuang keluarga sebelum mereka tiba ditempat asalnya.
Kini, sejak Jakarta menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 10 April 2020 akibat semakin parahnya pandemi Covid-19, pemandangan itu pun menghilang, U-Turn Pasar Rebo sepi hanya beberapa pengasong yang masih bertahan dengan sisa-sisa dagangan dan sebagian driver ojek online yang masih bertahan. Memang keputusan terburuk harus diambil oleh pemerintah untuk menekan laju penularan virus ini. Terlebih setelah pemerintah pusat memberlakukan larangan mudik pada tanggal 24 April lalu, para buruh kasar calon penumpang ini tak bisa berbuat apa-apa. Selain seperti dikatakan oleh media masa untuk bisa “mudik lebih awal” para buruh kasar yang masih tertahan tak punya banyak pilihan.
Mereka adalah para tukang gali tanah, tukang rawat taman harian, tukang bangunan, tukang panggul, pembantu rumah tangga, buruh cuci, buruh asuh, buruh warung nasi, buruh pasar dan buruh serabutan lainnya yang bekerja berpindah-pindah, tanpa kontrak, asuransi ataupun jargon safety first ala K3. Kini para buruh kasar dipinggir trotoar U-Turn Pasar Rebo yang bukan KTP Jakarta dan tak bisa pulang ke kampung halaman hanya perlu kebijaksanaan pemerintah untuk tak pandang KTP saat memberikan bantuan. Para buruh kasar ini bukan menolak anjuran untuk dirumah saja oleh para petinggi negeri dan para artis, tapi bak simalakama hidup diperantauan pulang kampung tak bisa, uang untuk membayar rumah kontrakan pun tiada dan jikapun sampai di daerah tujuan harus putar balik ke kota asal karena dibeberapa daerah sudah berlaku pula PSBB.
Buruh kasar dipinggir trotoar hanya bisa memilih untuk tinggal ditengah teriknya jalanan menunggu bus berikutnya tiba dengan mata terpejam dan kita memanjatkan do’a penuh harapan, semoga bangsa ini kuat menahan cobaan dan saling memberikan bantuan. Selamat hari buruh untuk paman, bibi dan saudar-saudara saya. Marhaban ya Ramadhan.