Gerakan Salafi: Antara Religiusitas dan Ekstremisme di Indonesia

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerja sama dengan Moslem and Global Affairs (MoGA) Institute dan MUI Kabupaten Sleman mengadakan seminar series (30/04/2019). Seminar Series kali ini mengangkat tema Gerakan Salafi: Antara Religiusitas dan Ekstremisme di Indonesia. Bertempat di ruang siding lantai II FISHUM, seminar yang dimoderatori oleh Ismatul Izza, M.A., selaku Dosen Program Studi Psikologi FISHUM, diisi oleh dua narasumber.

Narasumber yang pertama ialah Muhammad Wildan, M.A., Ph.D sebagai Ketua Bidang Pengkajian MUI Kab. Sleman dan Dosen FADIB UIN Sunan Kalijaga. Sedangkan narasumber yang kedua ialah Nur Khalik Ridwan, S.Ag., Penelitia ISAiS, PSI UII dan Pembina Yayasan Bumi Aswaja Yogyakarta.

Hadir pula dalam seminar kali ini Dekan FISHUM, Dr. Mochamad Sodik S.Sos., M.Si., dan ketua MUI Kabupaten Sleman K.H Syakir Ali, serta ketua MoGA Institute, Dr. Yayan Suryana, M.Ag. Dalam sambutannya, Dekan FISHUM mengapresasi tema yang diangkat. Selain itu, beliau juga mengucapkan selamat datang kepada pengurus MUI Sleman yang sudah bersedia hadir untuk mengikuti seminar kali ini.

Sementara itu, Ketua MUI Sleman, Syakir Ali juga senada dengan hal ini. Sekali lagi, ia sepakat bahwa tema yang diambil dalam seminar kali ini memang menarik. “Kacamata yang ada sekarang ini bisa kita lihat dari sudut pandang akademik. Intinya bahwa islam itu rahmatalil'alamin,” jelasnya.

Muhammad Wildan, M.A., Ph.D dalam materinya menjelaskan mengenai sejarah dan pola-pola yang membentuk kelompok Islam di Indonesia. “Di indonesia gerakan salafi ada hubungannya dengan saudi. Saya sebutkan tadi laskar jihad.” jelasnya.

Penyataan ini kemudian menjadi pembuka materi yang disampaikan beliau mengenai konsep salafi itu sendiri. Apa itu Salafi? Salafi adalah gerakan yang menginginkan kembali pada ajaran murni Islam, yaitu seperti yang dilakukan para salafus soleh.

”Didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792). Gerakan Wahabi merupakan salah satu bentuk salafisme. Salafisme terpecah dalam berbagai kelompok sehingga sulit untuk membuat definisi tunggal. Gerakan salafi berkembang melalui jaringan ulama Wahabi dan didukung dana pemerintah Arab Saudi,” tulisnya dalam materi.

Melengkapi materi ini, Nur Khalik Ridwan, S.Ag., membahas mengenai jaringan salafi dana apa yang mereka perjuangakan. Kelompok salafi kemudian dalam hal ini dibagi menjadi beberapa faham, Faham salafi yang mengharamkan filsafat atau kalam. Kemudian faham salafi yang mengeluarkan tasawuf atau tarekat dari Islam dan faham salafi yang cenderung menentang bid’ah dan haram beberapa hal.

Kemudian apa yang mereka perjuangkan?. Dalam materinya, Nur Khalik Ridwan menjelaskan beberapa hal terkait apa yang mereka perjuangkan. Salah satunya ialah Kembali ke Al-Qur’an-hadist. “Semua faksi salafi mengemukakan jargon kembali ke Al-Qur’an sama hadits, dan mendekatinya secara literal,untuk mengkritik kecenderungan madzhab dan taqlid. Di dalam praktiknya, mereka mengambil pendapat-pendapat mutaqaddimin mereka (bertaqlid), seperti kepada Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dan guru-guru salafi,” tulisnya dalam materi presentasi. (Tri)

Berita Terpopuler