Halal Bihalal Keluarga Besar FISHUM

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan acara halal bihalal bagi keluarga besar FISHUM. Acara ini berlangsung, Jumat, 14 Juni 2019 M / 1440 H. Bertempat di Interactive Center (IC) FISHUM, terlihat hadir dalam acara ini Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D.

Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi acara Halal bihalal ini. Selain sebagai ajang silaturahim, acara ini juga bagian dari wadah saling memaafkan.

“Saling menghormati dan tidak saling mencela. Maka mari kita kembangkan Islam Rahnatan llil ‘alamin. Menghormati Pancalisa, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika,” tuturnya.

Sambutan dari Rektor UIN Sunan Kalijaga ini sejalan dengan tema yang diangkat. Dalam acara pembinanaan pegawai dan Halal bihalal Keluarga Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kali ini mengangkat tema Peningkatan Pribadi Ihsan.

Sementara itu, Dekan FISHUM. Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. dalam sambutanya juga berharap silaturahim ini bisa meningkatkan karakter ihsan bagi keluarga FISHUM. Beliau berharap, kedepannya FISHUM menjadi salah satu Fakultas yang lebih maju. Apalagi, tahun ini ada 15 Dosen Baru yang mengisi di ketiga Prodi, yakni Sosiologi, Psikologi dan Ilmu Komunikasi.

“Terakhir, selaku pimpinan banyak kesalahan, maka saya selaku pimpinan meminta maaf apabila ada kesalahan. Kedepan, Fakultas kita diharapkan akan lebih maju,” jelasnya.

Dr. K.H. Hamim Ilyas, M.A. selaku pengisi acara dalam acara ini menjelaskan terkait dengan bagaimana cara kita menjadi pribadi yang ihsan. Beliau menuturkan kepada keluarga FISHUM untuk jangan berhenti melakukan kebaikan.

“Melakukan kebaikan dengan never eding process. Melakukan kebaikan dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Menurutnya ada tiga kriteria manusia dalam melakukan kebaikan dengan sebaik-baiknya. Pertama kita harus sejahtera. Sejahtera yang kesejahteranya. Tidak boleh berhenti di satu keadaan. Sejahtera itu ada ketersediaan untuk memenuhi kebutuhan.

Kedua, tidak ada ketakutan apapun. Walaa khoufun ‘alaihim Walaa hum yahzanun. Ketiga, berusaha mencari sampai memperoleh apa yang diberikan oleh Allah di Akhirat.

“Ketika kita kembali kepadanya, kita diterima. Kita ditempatkan di daarussalam. Di surga,” imbuhnya lagi.

Beliau menambahkan bahwa level-level kembali kepada Allah yakni masuk surga tanpa hisab. Meskipun jumlahnya tidak banyak bagi umat Nabi Muhammad SAW. Masuk surga tanpa hisab yakni melakukan kebaikan dengan Istiqomah se istiqomah istiqomahnya. Tetap menempuh jalan yang lurus.

“Bagaimana caranya? Tidak hanya mendakwahkan agama. Tetapi mencontoh para sifat-sifat nabi dan juga membangun peradaban,” tutupnya. (tri)