Cerita Chief Editor Jurnal Komunikasi Profetik, Terakreditasi Sinta 2

Keberadaan Jurnal dalam dunia akademik seperti Perguruan Tinggi menjadi penting. Jurnal sebagai karya ilmiah merupakan sumbangsih pemikiran intelektual dari dunia akademik. Demikian pula yang dilakukan oleh Jurnal Komunikasi Profetik. Jurnal yang dikelola langsung oleh Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menurut keterangan Rama Kertamukti, S.Sos., MSn, selaku Chief Editor, Jurnal komunikasi profetik merupakan Jurnal yang diterbitkan dua kali setahun pada bulan April dan Oktober, sebagai jurnal studi Ilmu Komunikasi. Direktur Jenderal Penelitian dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia telah mengakreditasi Sinta 2 Profetik Jurnal Komunikasi untuk 2019-2024 (SK Kemenristekdikti No. 10 / E / KPT / 2019), berlaku Vol11 No.2 Oktober 2018.

“S2 itu nialinya itu sekitar 70 sampai 85. 85 sampai 100 itu S1, untuk mendapatkan S2 itu sekarang berbasis digital. Nggak seperti dulu manual, jadi yang dilihat pertama ya biasanya penyebaran ya. Dilihat dari apa, kunjungan tiap hari berapa. Kalau dulu kan dilihat dari penyebaran kirim via pos kalau sekarang kan dilihat dari jumlah Viewer-nya,” jelas Rama saat ditemui di Prodi Ilmu Komunikasi, (20/05/2019).

Menurutnya, kunjungan ke halaman Jurnal Profetik sudah terhitung lumayan. Setiap harinya, minimal 80 viewer dari berbagai negara yang mengakses jurnal-jurnal yang tersedia di Jurnal Komunikasi Profetik. Selain banyaknya kunjungan secara digital, akreditasi juga dilihat dari Sumber Daya Manusianya (SDM).

“Kemudian yang kedua, dari sisi SDM nya. Editor dan Reviewernya. Editor kita memang sudah beragam, dari dari UNPAD, dari Bappenas, Kominfo, banyak sih sebenarnya. Dari UNY dari UNDIP. Terus reviwer kita Alhamdulillah sudah empat negara. Ada yang dari Turkey, Australia, Malaysia dan dari kita Indonesia. Itu dari editornya,” imbuhnya lagi.

Ketiga, hal yang tidak kalah penting ialah manajemen OJS-nya itu sendiri. Dilihat dari mana artikel itu masuk, dikelola, dan dimasukan ke editor, reviwer. Proses tersebut menurut Rama, yang juga sebagai Dosen Ilmu Komunikasi merupakan proses yang sudah memiliki sistem tersendiri.

“Walaupun memang penialaian untuk OJS kita ini kemarin penialaiannya, bukan rendah tapi di atas rata-rata dikit. Karena memang kekurangan kita adalah terlalu lamanya pengelolaan artikel. Kita janji di satu bulan selesai, tapi kenyataanya bisa jadi tiga bulan, karena kita tau sendiri reviewer itu orang sibuk, jadi kita memaksa mereka susah,” jelasnya.

Terakhir, hal yang dilakukan oleh Jurnal Komunikasi Profetik ialah tampilan visinya. Tim Jurnal Komunikasi Profetik benar-benar pengelola tampilannya dengan baik. Apalagi, Rama memang berlatar belakang desain. Jadi, menurutnya ia betul-betul membuat tampilan halaman jurnal menjadi mudah untuk diakses.

“Yang ngelola ada empat, dibantu sama sekertaris yang membantu, ada 4 mahasiswa, ada sekertaris chief editor itu ada bu ajeng, kemudian ada tim teknis itu pak lukman, kemudian ada editor yang bantu itu mba yanti. Kerjanya kita kerja tim,” begitu ceritanya.

Mnurut keterangannya, Rama Kertamukti, S.Sos., MSn, diberi amanah untuk mengelola pada bulan September tahun 2016. Kemudian, tahun 2017 awal beliau mulai masuk OJS.

“Saya sama sekali ndak tahu OJS itu apa waktu itu. Tapi saya belajar. Saat itu saya belajar dengan Chief Editornya sosiologi reflektif pak zainal, jadi bagaimana membangun itu,” tutupnya.

Liputan Terpopuler