Dr. Astri Hanjarwati, Raih Gelar Doktor dengan Nilai Yudisium Sangat Memuaskan

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHum) UIN Sunan Kalijaga kembali memiliki Doktor muda. Senin, 29 Juli 2019 melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Geografi, Program Pasca Sarjana Ilmu Geografi, Fakultas Geografi UGM Dosen Sosiologi Astri Hanjarwati, S.Sos., M.A., resmi menyandang gelar Doktor.

Promosi Doktor ini berlangsung di Ruang Auditorium Merapi, Gedung A Lantai I Fakultas Geografi UGM. Dr. Astri Hanjarwati memperoleh gelar Doktor Ilmu Geografi dengan Judul disertasinya yaitu Resiliensi Penyandang Paraplegia Korban Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Bantul Tahun 2006.

Sidang dipimpin oleh Dr. Andri Kurniawan, M.Sc dengan promotor Prof. Dr. Muh Aris Marfai, S.Si, M.Sc dan sebagai ko-promotor Bapak Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc dan Dr. M Pramono Hadi, M.Sc. Bertindak sebagai majelis penguji dalam sidang terbuka promosi doktor ini antara lain Dr. Sri Rum Giyarsih, M.Si; Ro’fah, MSW, Ph.D., Dr. Agus Joko Pitoyo, M.Sc; dan Dr. Suharman, M.Si.

Sementara itu, apresiasi juga datang dari Dekan FISHum, Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. Menurutnya, Astri merupakan Dosen Sosiologi yang memiliki tauladan dalam gagasan dan tindakan.

“Selamat, Sukses Selalu dan Penuh Berkah Untuk Bu Dr. Astri yang meraih gelar Doktor di Fak Geografi UGM. Doktor baru Kita ini tidak hanya sebagai akademisi tetapi juga seorang aktivis yang humanis. Di tengah kesibukannya di bidang akademik dan urusan domestik, Bu Astri aktif di PLD UIN Suka,” tuturnya saat dimintai keterangan usai acara promosi Doktor Astri Hanjarwati.

Beliau menjelaskan bahwa dengan penuh dedikasi dan telaten, Dr. Astri mencoba menjembatani sejumlah perbedaan cara pandang yang terkait dengan bagaimana semestinya bersikap bijak kepada difabel. Dr. Astri Hanjarwati berhasil mempresentasikan dan mempertahankan disertasinya dengan baik dan mendapatkan yudisium sangat memuaskan.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat. Bu Doktor Astri merupakan sosok akademisi dan aktivis yang selalu bersemangat untuk mendampingi Kaum lemah dan dilemahkan oleh sistem dan budaya tertentu. Disertasi mengenai "Resilensi Penyandang Paraplegia Korban Bencana Gempa Bumi" merupakan salah satu saksi, bahwa Bu Astri Mampu mengintegrasikan sejumlah hal dalam satu tema yang bermakna,” imbuhnya.

Dalam disertasinya, Dr. Astri Hanjarwati meneliti mengenai resiliensi penyandang paraplegia korban bencana gempa bumi Bantul tahun 2006 menggunakan pendekatan kajian geografi. Kajian ini berfokus pada manusia yaitu penyandang paraplegia.Perbedaan dan kebaruan (novelty) dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada subjek penelitiannya yaitu difabel baru.

Difabel baru ini merupakan masyarakat korban gempa bumi Bantul tahun 2006 yang mengalami cedera tulang belakang dan sekarang menjadi penyandang paraplegia. Lokasi penelitian berada di enam kecamatan dengan jumlah penyandang paraplegia terbanyak. Kecamatan sebagai lokasi penelitiannya antara lain yaitu Piyungan, Bambanglipuro, Jetis, Sewon, Pundong, dan Pleret.

“Populasi penyandang paraplegia di enam kecamatan 124 orang, dan diambil sampel dengan metode stratified random sampling sebanyak 44 orang (kuesioner). Wawancara mendalam kepada 10 orang keluarga penyandang paraplegia. Analisis yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif terhadap data hasil kuesioner, wawancara mendalam, hasil pengamatan, dan data sekunder,” tulis Dr. Astri dalam penjelasannya.

Hasil penelitian yang menjadi novelty/kebaruan dan melengkapi penelitian sebelumnya adalah pertama, menjadi penyandang paraplegia merupakan sebuah risiko, risiko tidak hanya ditentukan oleh ancaman, kerentanan dan kapasitas, tetapi juga ditentukan oleh respon. Kedua, penelitian ini membenarkan bahwa langkah penyelamatan dengan metode segitiga kehidupan terbukti mampu menyelematkan jiwa dari kematian, namun metode ini mempunyai kelemahan yaitu terluka parah pada bagian tubuh selain kepala.

Ketiga, Resiliensi pada penyandang paraplegia dicapai melalui 4 fase yaitu: fase stress, fase penerimaan diri dan adaptasi, fase pengembangan diri/peningkatan kapasitas dan fase resilien (mandiri dalam mobilitas, produktif dan bersosialisasi. Keempat, Faktor penentu resiliensi penyandang paraplegia yang berbeda dengan penelitian sebelumnya adalah faktor aksesibilitas dan faktor adaptasi. Kelima, Pola-pola adaptasi penyandang paraplegia adalah penyandang paraplegia yang tergantung dengan keluarga, penyandang paraplegia yang mandiri dan penyandang paraplegia yang mandiri dan produktif.

Keenam, aset penghidupan penyandang paraplegia yang mengalami kenaikan yaitu modal sosial, sedangkan modal manusia, modal fisik dan modal keuangan mengalami penurunan. Terakhir, distribusi rumah penyandang paraplegia berada di wilayah sangat rawan dan rawan dengan rata-rata jarak terdekat dengan sesar yaitu 1,02 km dan terjauh 7 km. (tri)

Liputan Terpopuler