Seminar Series, Identity and Language: In Search of Social Integration in Turkey

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHum) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Festival Sastra Yogyakarta serta Dinas Kebudayaan menggelar seminar series. Seminar seris kali ini mengangkat tema mengenai Identity and Language: In Search of Social Integration in Turkey (Identitas dan Bahasa: Mencari Integrasi Sosial di Turkey), Senin, 26/08/2019.

Dimoderatori oleh Denisa Apriliawati, S.Psi., M. Res. Acara yang berlangsung di Ruang Interactive Center Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan kalakuan Yogyakarta ini juga hasil kerjasama dengan MoGA Institute.

Menurut Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. selaku Dekan FISHum, kegiatan semacam ini menjadi kegiatan akademik yang akan berlangsung terus menerus dengan mengundang narasumber-narasumer yang menarik. Topik kali ini juga tidak kalah menarik. Pembahasan mengenai bahasa dan identitas, apalagi narasumber akan menceritakan kondisi yang ada di Turki, Negara yang agama dan budayanya dekat dengan kita.

“Indonesia and Turkey are brother. We have been sharing many common things to collaborate. But at the same time a lot of information distortion spreads among us, by highlighting only about political Islam for instance. For this reason, it is time for us to hear about social integration from the perspective of language and identity by the Turkish citizen itself. This Seminar Series will provide other perspective on Turkey, since Bejan Matur is a writer who has more sensitivity to the surrounding situation in Turkey,” jelasnya lagi.

Narasumber seminar series kali ini yakni Bejan Matur salah satu penyair dan penulis yang cukup terkenal dari Turki. Perempuan yang berasal dari keluarga Kurdi ini memiliki banyak karya. Beberapa karya Bejan antara lain yakni Doğunun Kapısı: Diyarbakır (The Gate of East: Diyarbakir) yang terbit pada tahun 2009, Kader Denizi (Sea of Fate) yang terbit pada tahun 2010, Dağın Ardına Bakmak (Looking Behind the Mountain), pada tahun 2011 dan masih banyak lagi karya Bejan.

Dalam seminar series kali ini, Bejan menceritakan bagaimana ia hidup ditengah dua budaya dan bahasa yang berbeda. Tidak hanya itu, ia menceritakan bahwa ia hidup sebagai minoritas, ia seorang Kurdi tapi juga Turki. Perjalananya selalu berada pada dua sisi.

Seperti yang kita ketahui bahwa Orang Kurdi di Turki adalah etnis minoritas terbesar di negara tersebut. Sebagai orang Kurdi, meskipun minoritas dalam beberapa karyanya ia menggunakan bahasa kurdi itu sendiri. Menurutnya, sejak awal ia ingin menjadi representasi apa yang mereka rasakan.

Ia juga bercerita mengenai pengalamannya saat belajar hukum di Universitas Ankara. Bejan saat itu sempat berurusan dengan polisi dan membuatnya trauma. Untuk mengobati trauma (trauma healing) yang Bejan rasakan, ia selalu menulis sesuatu. Kesedihan dan penderitaan yang ia alami, maka ia memperoleh perspektif baru.

Selain Bejan, pembicara lain yang juga mengisi yakni Bernando J. Sujibto salah satu Dosen Sosiologi sekaligus alumni yang menempuh studi di Pascasarjana Sosiologi di Universitas Selcuk, Turki. Ia aktif meneliti dan menuangkan ide-idenya terkait dengan tema-tema peacebuilding, kekerasan, sastra dan kebudayaan Turki. (tri)

Liputan Terpopuler