eNJOY Camp 2019, Kemah Pemuda Internasional Lintas Negara dan Agama

Setelah sukses menyelanggarakan Annual International Conference On Social Sciences and Humanities (AICoSH), Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora melanjutkan agenda internasional dengan mengundang puluhan mahasiswa dan pemuda dari lintas negara dan agama. Kali ini, FISHum mewadahi kegiatan kepemudaan dalam bentuk kemah pemuda atau International Jogja Youth Camp 2019 (eNJOY Camp 2019).

Berlangsung selama tiga hari, yakni (28 s/d 30 Juni 2019) acara ini dibuka secara formal dengan pelepasan merpati oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. H. Waryono, M. Ag., dan penanaman pohon perdamaian oleh Dekan Fishum Dr. Mochamad Sodik, M.Si.

“Acara ini sebenarnya dirancang untuk temen-temen muda. Sehingga mereka tidak hanya punya kekuatan narasi intelektual tetapi mereka juga memiliki komitmen sosial kultural. Karena dari sinilah mereka memiliki jejaring yang sifatnya lebih kuat itu akan terjadi,” tutur Dekan FISHum saat ditemui awak media (29/06/2019).

Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan generasi muda dan dan calon pemimpin bangsa. Selain seminar dan workshop serta grup diskusi, di hari kedua (29/06/2019) peserta juga menggelar deklarasi. Deklarasi digelar oleh semua peserta di UIN Sunan Kalijaga dan berisi tentang seruan menjaga keberagaman dan inklusifitas di kawasan Asia Tenggara.

eNJOY Camp ini menjadi ruang bagi pemuda dari Asia Tenggara untuk berkumpul dan berdiskusi untuk menjadikan Asia Tenggara daerah yang lebih inklusif. Diselenggarakan dalam bahasa Inggris, acara ini dapat memfasilitasi seluruh peserta dari berbagai latar belakang kewarganegaraan. Seluruh peserta mendapat kesempatan yang sama untuk saling memahami keberagaman, membangun jaringan dengan peserta dari seluruh Asia Tenggara, serta memahami kebudayaan Indonesia lebih jauh.

“Selamat kepada semua peserta eNJOY Camp, kami ucapkan terimakasih. eNJOY Camp diadakan dalam rangka untuk kita meyadari bahwa FISHum adalah bagian dari UIN, UIN adalah bagian dari Indonesia, Indonesia adalah bagian dari nasional dan internasional. Oleh karena itu, kemah pemuda internasional ini sangat penting, karena kita ingin sekali lagi pemuda dan mahasiswa tidak hanya kepekaan intelektual tetapi juga komitmen sosial kultural. Disinilah peran dari eNJOY Camp ini sangat penting sehingga kita terus mengadakannya setiap tahun dan akan semakin kami perluas dengan tema-tema yang semakin menantang. Insyaallah dengan adanya acara ini kita akan menjadi bagian dari dunia internasional dan dunia perdamaian,” imbuhnya lagi.

Sementara itu, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. Sulistyaningsih menjelaskan bahwa kegiatan ini telah dirancang satu tahun yang lalu. Dalam kepanitiaan ini melibatkan dosen, tendik, dan mahasiswa serta alumni. Beliau juga merasa bangga dengan peserta dari luar negeri maupun dalam negeri yang ikut meramaikan acara ini. Apalagi tema yang diangkat juga sangat menarik. Bagaimana menjadikan kawasan Asia Tenggara yang lebih inklusif.

“Semoga bisa memberikan kesan yang mendalam. Sehingga bisa terlibat lagi dalam event eNJOY Camp tahun depan. Selamat dan sukses untuk semua peserta eNJOY Camp,” jelasnya.

Kebanggaan ini juga diungkapkan oleh Achmad Uzair, S.IP., M.A., Ph.D. selaku ketua panitia eNJOY Camp 2019. Beliau berharap acara ini bisa meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan peserta.

Menurut ketua panitia yang juga Direktur International Office UIN Sunan Kalijaga, Achmad Uzair, agenda yang digagas International Office bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHum), UIN Sunan Kalijaga ini bermaksud untuk menyatukan derap langkah generasi muda mahasiswa dan komunitas pemuda se- Asia Tenggara sebagai calon-calon pemimpin bangsa untuk menggapai masa depan yang lebih baik dalam satu kesatuan visi.

“Kami berharap kawan-kawan peserta bisa menikmati acara ini dan meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan dan komitmen sesuai dengan tema eNJOY Camp, New Youth Awarness For an Inclusive Region,” tuturnya saat ditemui di ruang sekretariat panita, Ruang 201 lt. II FISHum.

Asia Tenggara merupakan salah satu diantara beberapa daerah paling beragam di dunia. Asia Tenggara memiliki banyak tradisi keagamaan seperti Islam, Hindu, Kong Hu Chu, dan Kristen, serta keyakinan lainnya. Di dalamnya, setidaknya tercatat ada 2.197 bahasa yang tersebar di seluruh daerah di Asia.

Di samping keberagamannya, Asia Tenggara telah menjadi satu kesatuan komunitas utuh dalam hal perdagangan maupun non-perdagangan. Untuk menjadi satu komunitas yang kuat, perlu adanya penyesuaian dalam kebijakan, perspektif, hingga nilai. Anak muda yang selalu menjadi penggerak perekonomian di banyak negara sangat dibutuhkan untuk membangun Asia Tenggara ke depan. Dalam membangun Asia Tenggara yang lebih baik, tatap muka antar warga negara di Asia Tenggara perlu untuk berbagi kesamaan identitas.

Mereka yang hadir di forum ini adalah para mahasiswa dari berbagai universitas dalam dan luar negeri dari lima negara di Asia Tenggara, yakni; Philipina, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand. Dari PT dalam negeri antara lain: UIN Maulana Malik Ibrahim, UIN Sunan Kalijaga, UIN Raden Patah Palembang, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Mercu Buana, UGM, IAIN Surakarta, UIN Suska Riau, UIN Palangkaraya, IAIN Kerinci, IAIN Bukitinggi, Universitas Islam Sultan Sharif Ali.

Dari negara-negara di Asia Tenggara: Kolej. Universiti Islam Antar Bangsa Selangor, National University of Singapure, Prince of Songkla University, Thammasat University Lampang Campus, International Islamic University Malaysia, University of Liperpool, Singapure Institute of Technology, University of The Philipines, Diliman. Sementara komunitas pemuda antara lain; Komunitas Gusdurian, Perwakilan Pemuda Kristen, Perwakilan Pemuda Katolik, dan Perwakilan Pemuda Budha.

“Di samping keberagamannya, Asia Tenggara telah menjadi satu kesatuan komunitas utuh dalam hal perdagangan maupun non-perdagangan. Untuk menjadi satu komunitas yang kuat, perlu adanya penyesuaian dalam kebijakan, perspektif, hingga nilai. Anak muda yang selalu menjadi penggerak perekonomian di banyak negara sangat dibutuhkan untuk membangun Asia Tenggara ke depan,” kata Uzair lagi.

Para peserta juga mendapatkan berbagai pengetahuan untuk menghadapi kompetisi pasar global dengan percaya diri berbekal moderasi agama dengan mantap, demikian jelas Achmad Uzair. Beberapa narasumber yang hadir memberikan pembekalan antara lain; Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D., Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Kamaruddin Amin, Ph.D., Dirjen Penjaminan Mutu PT Kemenristek Dikti, Prof. Aris Junaidi, Ph.D., Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kemenlu RI, Riaz Saehu, Dari National University of Singapure, Dr. Azhar Ibrahim, Dosen Fakultas Sosial dan Humaniora, Achmad Zainal Arifin, Ph.D., Staf Khusus Presiden RI bidang Keagamaan Internasional, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, dan Verene Meyer dari Columbia University United State.

eNJOY Camp 2019 juga mengadakan 3 kompetisi untuk peserta. Yakni kompetisi paper, video dan foto. Kompetisi paper, juara satu diraih oleh Muhammad Anwar Mohd Nor dari International Islamic University Malaysia (IIUM) dengan judul tulisan ASEAN as an inclusive community: Identity and avercoming the obstacles. Juara dua diraih oleh Muhammad Naziful Haq dari Universitas Mercubuwana Indonesia dengan judul Agama dan pasca kebenaran. Sedangkan untuk juara ketiga diraih oleh Sidik Nur Toha dari Universitas Gadjah Mada Indonesia dengan judul tulisan Islam nusantara harapan moderatisme di tengah ancaman radikalisme dan intoleransi.

Dalam kompetisi foto, juara satu diraih oleh Nurul Wahyuni dari UIN Raden Fatah Palembang. Juara dua diraih oleh Mohd Harith Mohd Reazal dari International Islamic University Malaysia (IIUM) dan juara ketiga diraih oleh Fidya Laila Sarie dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sedangkan untuk lomba video, juara satu diraih oleh Afnan Alwan NR & Muhammad Rafiq Hilal dengan judul video Menjadi Manusia Bersama Ketimbang Ngemis Yogyakarta. Juara dua oleh Tri Muryani dengan judul Pemuda Membangun Desa dan juara ketiga oleh Moh. Sumarji dengan judul Komunitas Film Merangkul Perbedaan. Ketiga pemenang kompetisi video merupakan delegasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga. (tri)

Berita Terpopuler