Short Course Islam in Indonesia: "Rethinking the Role of Indonesian Moslem Communities in Raising Social Solidarity"

Pusat Studi Moslem and Global Affairs (MoGA) Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga menggelar agenda rutinannya, yakni Short Course Islam in Indonesia. Short Course tahun ini mengangkat tema "Understanding Everyday Life of Indonesian Muslim Society in Raising Social Solidarity." Peserta sangat antusias untuk mengikuti rangkaian Short Course ini. Hal tersebut terlihat dari jumlah peserta yang hadir lebih dari 100 orang.

Rangkaian kegiatan Short Course kali ini dilaksakanan selama 3 hari mulai dari 15-17 November 2022. Pada hari pertama (15/11/2022) pembukaan Short Course dilangsungkan secara luring di Conference Room FISHUM dan daring melalui room zoom.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si. turut hadir dalam pembukaan dan menyampaikan sambutan. Melalui sambutannya, beliau mengapresiasi kegiatan Short Course yang diselenggarakan oleh MoGA yang merupakan agenda tahunan yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2018.

“Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras untuk menyelenggarakan acara tahunan ini,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, hadir pula Prof. Dr. Phil. Al Makin, S. Ag., M.A. selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga dan menjadi keynote speaker. Prof. Al Makin juga mengamini tema pada Short Course tahun ini yang menurutnya sangat penting, karena tema dan topik yang diangkat merupakan isu atau bahasan yang sering ditemukan di Indonesia.

Diakhir, beliau berpesan kepada seluruh peserta untuk terus memupuk rasa cinta terhadap Indonesia, mulai dari bahasa, budaya dan lainnya. Namun, di samping itu juga tetap harus menguasai atau mampu berbahasa asing. Beliau juga menuturkan bahwa kegiatan Short Course ini merupakan momentum baik yang dapat dijadikan sebagai ajang untuk belajar.

“Acara ini merupakan acara yang sangat bagus untuk para mahasiswa dan seluruh peserta untuk mengembangkan skill bahasa asingnya,” pungkasnya.

Hari pertama, Short Course diisi oleh dua pembicara, yaitu Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A. dan Prof. Dr. Judith Schlehe. Kemudian moderator yang memimpin jalannya diskus ialah Dr. Andri Rosadi, M.Hum (Dosen Sosiologi UIN Sunan Kalijaga). Adapun topik yang menjadi pembahasan pada hari pertama ialah "Rethinking the Role of Indonesian Moslem Communities in Raising Social Solidarity."

Sesi pertama diisi oleh Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A. (Senior Advisor to the Executive Office of the President and former Special Staff for International Religious Affairs to the President Joko Widodo). Prof. Ruhaini langsung membuka pembicaraannya dengan sebuah pertanyaan ‘Mengapa Solidaritas Penting?’ Kemudian beliau menuturkan bahwa solidaritas atau persaudaraan merupakan jiwa dari demokrasi modern. Meskipun pada praktiknya memberikan konsep 'kekuasaan mayoritas' tetapi hal ini disandingkan dengan konsensus atau kesepakatan yang kemudian untuk mengangkat persamaan hak dan keadilan bagi minoritas.

Kemudian, beliau menyampiakan data bahwa Indonesia ialah negara muslim terbesar dan paling multikultural serta plural. Hal itu bisa dilihat dengan adanya 6 agama besar serta ratusan kepercayaan lokal serta terdapat lebih dari 700 suku. Kendati demikian Indonesia masih dikategorikan sebagai negara muslim yang paling demokratis dan moderat. Solidaritas yang ada masih sangat kental, karena hasil dari proses moderasi dalam proses pembangunan bangsa mampu mentransformasikan Islam sebagai identitas yang etno-religius.

Tak hanya itu, Indonesia juga didorong dan didukung oleh para pemimpin dunia untuk mengambil kepemimpinan yang lebih kuat guna mempromosikan Islam moderat dalam rangka memperkuat solidaritas global.

Sesi kedua dilanjutkan penyampaian materi oleh Prof. Dr. Judith Schlehe (Professor in the Institute of Social and Cultural Anthropology at the University of Freiburg, Germany). Tak kalah menarik, Prof. Judith juga membuka pembicaraannya dengan sebuah pertanyaan, “Solidaritas dengan siapa?” kemudian, beliau menegaskan pentingnya solidaritas dengan sesama makhluk sosial (manusia). Bahkan solidaritas dengan lingkungan sosial global juga penting.

Di hadapan seluruh peserta (zoom meeting) Prof. Judith juga menyampaikan mengenai solidaritas sosial yang berarti pengakuan terhadap kemajemukan dan keberagaman yang muaranya menjadi sikap toleransi, keterikatan, dan kelestarian lingkungan.

Peran komunitas Muslim Indonesia dalam menggalang solidaritas sosial bisa menjadi kekuatan untuk melawan negara yang represif, yang memaksakan konsepsi tertentu tentang kebenaran agama. (Riandi,Agnia/tim kreatif)