Dilihat 0 Kali

07_275_workshop penulisan modul praktek laboratorium.jpeg

Senin, 18 Mei 2026 15:21:00 WIB

Tingkatkan Mutu Praktikum, FISHUM Gelar Workshop Penulisan Modul Laboratorium Berbasis Outcome

YOGYAKARTA, FISHUM – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Workshop Penulisan Modul Praktik Laboratorium pada Senin, 18 Mei 2026. Agenda strategis ini diinisiasi untuk meningkatkan kapasitas dosen serta tenaga laboratorium dalam menyusun panduan praktikum yang sistematis, adaptif, dan selaras dengan standar akademik mutakhir.

Workshop ini dihadiri secara intensif oleh para dosen pengampu mata kuliah dari berbagai program studi di lingkungan FISHUM yang dalam proses pembelajarannya membutuhkan dukungan serta aktivitas laboratorium.

Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FISHUM UIN Sunan Kalijaga, Prof. Erika Setyanti Kusumaputri, M.Si. Dalam sambutannya, Erika menggarisbawahi bahwa ketersediaan modul yang terstruktur bukan sekadar pelengkap administratif, melainkan instrumen krusial dalam menjamin mutu akademik dan menuntun mahasiswa mencapai kompetensi praktis yang diharapkan.

"Workshop ini merupakan langkah strategis fakultas untuk memastikan seluruh modul praktik tidak hanya tersusun rapi secara administratif, tetapi juga fungsional dan selaras dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)," kata Erika dalam sambutannya di hadapan para peserta, Senin, 18 Mei 2026.

Memasuki sesi inti, workshop menghadirkan dua narasumber ahli untuk membedah urgensi laboratorium dari sudut pandang epistemologis hingga teknis standardisasi dokumen mutu. Pada sesi pertama, Dr. Andreas Budi Widyanto, S.Sos., M.A. selaku Ketua Social Research Center Departemen Sosiologi UGM memantik diskusi dengan mengajak para peserta melakukan dekonstruksi dan reposisi terhadap fungsi laboratorium di lingkungan ilmu sosial dan humaniora. Andreas mengkritik kecenderungan umum yang sering kali menempatkan laboratorium sebatas fasilitas pelengkap atau ruang fisik pasif.

"Laboratorium adalah ruang aktif untuk membangun pengetahuan prosedur, instrumental knowing-how, dan efektivitasnya sangat bergantung pada aktivitas yang mahasiswa lakukan sendiri," ujar Andreas. Ia menambahkan bahwa transformasi ruang ini menuntut dosen pengampu untuk merancang skenario praktikum yang memicu mahasiswa menjadi subjek aktif dalam memproduksi pengetahuan, bukan sekadar penonton pasif dari sebuah demonstrasi alat.

Melengkapi fondasi konseptual tersebut, Dr. Ika Kartika, S.Pd., M.Pd. hadir pada sesi kedua dengan memaparkan panduan taktis mengenai anatomi penyusunan modul yang ideal. Ika mengingatkan para dosen pengampu agar menggeser orientasi penulisan dari pola konvensional yang kerap terjebak pada tebalnya halaman materi atau pemadatan teori semata. Menurut dia, indikator utama keberhasilan sebuah modul terletak pada kejelasan instruksi dan efektivitasnya dalam memandu mahasiswa.

"Modul yang baik itu bukan modul yang paling tebal, tetapi modul yang paling jelas mengantar mahasiswa mencapai outcome. Dan prinsip dasarnya, modul yang baik adalah modul yang dikerjakan dan selesai," tutur Ika memotivasi para peserta.

Lebih lanjut, Ika menjabarkan alur kerja sistematis dan akuntabel yang harus ditempuh oleh dosen pengampu mata kuliah berbasis laboratorium. Proses tersebut wajib dimulai dengan mencermati Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sebagai kompas utama, merumuskan unit-unit pembelajaran secara runtut, hingga menyusun instrumen asesmen yang presisi untuk mengukur ketercapaian kompetensi mahasiswa.

Langkah terakhir yang tidak kalah krusial dalam rantai penjaminan mutu adalah memastikan bahwa dokumen modul tersebut mudah dipahami oleh mahasiswa sekaligus siap diorientasikan dalam proses audit internal maupun eksternal sebagai bukti validitas mutu program studi.

Melalui workshop yang berlangsung interaktif dan diwarnai sesi bedah draf ini, para dosen pengampu dan pranata laboratorium FISHUM diharapkan dapat segera melakukan finalisasi terhadap panduan praktikum mereka. Akselerasi penulisan ini dinilai mendesak agar seluruh modul baru tersebut dapat segera diimplementasikan pada semester mendatang, sekaligus menjadi pijakan nyata dalam menghadirkan perkuliahan yang lebih aplikatif, terukur, dan akuntabel di lingkungan UIN Sunan Kalijaga. (FAR)