Bedah Buku Peristiwa Tiga Daerah Karya Antony Lucas

International Office UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) mengadakan bedah buku yang berjudul peristiwa tiga daerah karya Antony Lucas. Bedah buku kali ini berlangsung pada hari Kamis, tanggal 27 Februari 2020 dan bertempat di Teatrikal Perpustakaan Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam acara ini, Dr. Mohammad Sodik S.sos, M.Si selaku dekan FISHUM dalam sambutannya menjelaskan bahwa bedah buku Peristiwa Tiga Daerah ini adalah penting karena sejarah ini harus kita refleksikan, sehingga kita bisa memposisikan diri kita hari ini dan bahkan bisa memprediksi masa depan dengan sebaik baik-nya.

“Dengan belajar sejarah ini kita akan semakin kokoh berpijak dan meluruskan masa depan. Sehingga dengan acara bedah buku ini harapannya juga kepada mahasiswa yang hadir dalam kegiatan ini dapat berbagi ilmunya dengan mahasiswa yang lain yang tidak hadir dalam kegiatan bedah buku ini,” tuturnya.

Acara bedah buku kali ini di isi oleh Antony Lucas Sejarawan dari Australia sekaligus penulis buku berjudul Peristiwa Tiga Daerah. Kedua Achmad Uzair, Ph.D., selaku Direktur International Office UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan bedah buku ini dimoderatori oleh Dr. Muryanti, M.A selaku Dosen Sosiologi.

Antony Lucas menyampaikan bahwa Buku yang dibedah ini berjudul Peristiwa Tiga Daerah, memiliki latar belakang peristiwa yang terjadi pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Beberapa tragedi yang tercatat terjadi di Tegal, Brebes, dan Pemalang dimana pada situasi tersebut para petani di sana yakni petani padi dan petani tebu saling berebut lahan pertanian.

“Dalam peristiwa tersebut terdapat gerakan, dimana gerakan ini dinamai gerakan KUTIL. Eksistensi gerakan ini adalah pencurian, dimana mereka mencuri untuk disumbangkan kepada masyarakat yang tidak punya, masyakarakat yang kekurangan, seperti mencuri padi dan pakaian. Jelas, Ini kaitannya dengan masa penjajahan dulu dimana masyarakat dituntut untuk memberikan hasil panennya, bahkan pakaian yang masyarakat pakai adalah karung goni,” jelasnya.

Latar belakang ini yang menurutnya melahirkan buku ini. Ia menjelaskan bahwa ketika akan membangun perspektif sebuah gerakan, kita harus belajar dari gerakan-gerakan masa lalu dari daerah yang mempunyai perspektif yang jelas dan nasional.

Sementara itu, Achmad Uzair, Ph.D., selaku dosen Sosiologi FISHUM, menyampaikan bahwa FISHUM ini sangat progres karena mampu mengadakan acara bedah buku ini dimana acara ini termasuk acara Internasional. Bedah buku ini juga dibarengi dengan diskusi, tentu ini sangat penting karena mampu melacak peristiwa penting yang terjadi di masa lalu. Dalam buku ini ada gerakan gerakan, diantaranya ada gerakan kiri lurus, ada gerakan kiri yang bengkok dan gerakan kiri yang moderat.

“Kemudian buku ini menceritakan mengenai konfliknya, dimana konflik tersebut tidak hanya muncul begitu saja akan tetapi muncul karena ada prekondisi, prekondisi yang material salah satunya mengenai perebutan kekuasaan sewa tanah karena pada penjajahan Belanda. Belanda merupakan pengekspror gula terbesar, dan Belanda ingin terus mengekspansi penyewaan paksa untuk pertanian tebu. Dalam kasus sewa ini, para petani juga mendapatkan sewa yang sangat kecil dan ada tuntutan pajak yang sangat besar,” jelasnya.

Kemudian munculnya konflik yaitu dengan kesadaran sosial, kesadaran sosial ini muncul dengan adanya situasi sosial, organisasi sosial sehingga prekondisi material dan kesadaran inilah yang mencuci konflik di tiga daerah tersebut. Buku ini juga memberikan sumbangsih, bukan hanya teks-teks tertulis dan metodologis sejarah, akan tetapi juga memberikan dokumen yang tidak kalah pentingnya, walaupun tidak resmi akan tetapi bersifat otoritatif yaitu berupa sejarah lisan.

“Buku ini menunjukan bahwa apa yang terjadi didaerah lokaln dan sekitarnya pada masa itu itu berpengaruh dan berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di kota, seperti kapitalisme global dan ini yang nantinya menuju ke tanam paksa karena keinginan Belanda yang ingin menjadi negara kapitalisme. Ketika kapitalisme ini di kritik maka mereka memunculkan kebijakan liberalisme dan dampak dari semua itu adalah lapisa masyarakat yang bawah yang mengalami penderitaan yang hebat,” jelasnya lagi.

Buku ini menurutnya memperhatikan peristiwa masa lalu dimana munculnya gerakan-gerakan sosial yang membantu masyarakat yang kekurangan, yang tertindas yang kemudian gerakan ini dinamakan gerakan kutil. Dan gerakan ini gerakan yang mengutakamakan kepentingan kelompok. Sehingga gerakan ini merupakan robin hood nya Indonesia. (nisa)

Berita Terpopuler