Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) bersama Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akan menyelenggarakan International Conference on Interdisciplinary Sciences (ICIS) 2026 pada 25–26 November 2026. Konferensi internasional yang dilaksanakan secara hybrid, luring di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan daring melalui platform konferensi, ini mengangkat tema “Work in the Age of Algorithms: AI, Media, and Human Impacts.” ICIS 2026 dirancang sebagai forum akademik internasional yang mempertemukan peneliti, dosen, mahasiswa, profesional, pembuat kebijakan, pelaku industri, dan masyarakat untuk mendiskusikan perubahan dunia kerja, pendidikan, media, organisasi, dan ilmu pengetahuan di tengah semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan sistem algoritmik. Berbeda dari diskusi AI yang semata-mata berorientasi pada aspek teknologi, konferensi ini menempatkan manusia dan konsekuensi sosial dari teknologi sebagai pusat pembahasan.
Melalui perspektif interdisipliner, ICIS 2026 akan mempertemukan kajian ilmu sosial dan humaniora dengan sains dan teknologi. Dialog tersebut diharapkan dapat memperluas pembahasan mengenai AI, mulai dari persoalan psikologis, komunikasi, media, perubahan sosial, etika, tata kelola data, kesehatan digital, lingkungan, industri, hingga pengembangan lingkungan binaan yang cerdas. Konferensi ini dilatarbelakangi oleh semakin intensifnya penggunaan algoritma dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia kerja, misalnya, algoritma telah digunakan dalam proses rekrutmen, evaluasi kinerja, pengambilan keputusan, pemantauan, penjadwalan, dan otomatisasi pekerjaan. Dalam pendidikan, AI semakin banyak dimanfaatkan untuk pembelajaran personal, asesmen, produksi konten, dan dukungan administratif. Sementara itu, pada sektor media, algoritma memengaruhi distribusi informasi, visibilitas konten, pola konsumsi media, pembentukan opini, serta pengalaman sosial pengguna.
Perkembangan tersebut menawarkan peluang peningkatan efisiensi dan inovasi, tetapi pada saat yang sama memunculkan persoalan mengenai keadilan, bias algoritmik, transparansi, privasi, kesenjangan keterampilan, kesehatan psikologis, dan otonomi manusia. Karena itu, ICIS 2026 memandang transformasi algoritmik tidak cukup dievaluasi hanya berdasarkan akurasi dan efisiensi teknologi, tetapi juga berdasarkan konsekuensinya terhadap martabat manusia, agensi, identitas, kebermaknaan kerja, kesejahteraan, budaya organisasi, kualitas informasi, keadilan sosial, dan keberlanjutan.
Mempertemukan Ilmu Sosial-Humaniora dan Sains-Teknologi
ICIS 2026 membuka ruang pembahasan yang luas melalui dua rumpun utama, yaitu Social Sciences and Humanities serta Science and Technology. Pada rumpun ilmu sosial dan humaniora, topik konferensi antara lain mencakup interaksi manusia dan AI dalam pekerjaan dan pembelajaran; desain kerja, kinerja, serta keterampilan masa depan; kesejahteraan dan kesehatan psikologis dalam lingkungan algoritmik; kepemimpinan dan relasi kekuasaan dalam organisasi manusia-AI; etika, identitas, dan budaya; serta pendidikan, media, dan proses sosialisasi dalam masyarakat algoritmik. Sementara itu, rumpun sains dan teknologi mencakup kolaborasi manusia-AI dalam penelitian dan praktik profesional; responsible algorithms dan tata kelola data; pemodelan komputasional dalam ilmu alam; bioteknologi dan bioinformatika; teknologi kesehatan digital; smart manufacturing dan Industry 5.0; ilmu lingkungan dan teknologi berkelanjutan; serta arsitektur dan lingkungan binaan cerdas.
Sejumlah isu lintas disiplin juga menjadi perhatian, di antaranya martabat dan agensi manusia, akuntabilitas, bias dan transparansi algoritmik, privasi serta keadilan data, literasi AI, misinformasi, tata kelola platform, inklusi berdasarkan gender, disabilitas, usia, dan kelas sosial, hingga pengembangan AI yang sensitif terhadap konteks agama dan masyarakat multikultural. Konferensi juga memberi perhatian pada perspektif Global South dan pengembangan teknologi yang berakar pada konteks lokal.
Keynote, Panel, Presentasi Ilmiah, hingga Student Research Forum
Selama dua hari penyelenggaraan, ICIS 2026 akan menghadirkan sejumlah agenda akademik, meliputi keynote speeches, plenary panel, invited thematic sessions, parallel paper sessions, Student Research Forum, Policy and Practice Dialogue, serta kegiatan networking dan penjajakan kolaborasi akademik. Pada hari pertama, agenda utama dirancang mencakup pembukaan, keynote bertema “Work and Human Agency in Algorithmic Systems,” plenary panel bertajuk “AI, Media, and the Future of Human Work,” sesi paralel, sesi tematik, serta jejaring akademik. Hari kedua akan dilanjutkan dengan keynote “Responsible AI and Interdisciplinary Futures,” Policy and Practice Panel, sesi paralel, Student Research Forum, Collaborative Research Forum, penyampaian rekomendasi, penghargaan, dan penutupan. ICIS 2026 menargetkan sekitar 100–150 peserta, dengan sekitar 50 presenter pada sesi paralel. Peserta dan presenter diharapkan berasal dari kalangan mahasiswa sarjana, magister, dan doktoral; dosen dan peneliti; profesional; pembuat kebijakan; organisasi masyarakat sipil; institusi internasional; industri dan perusahaan rintisan; pengembang teknologi; hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian pada isu AI, media, pekerjaan, dan dampaknya terhadap manusia.
Konferensi menerima berbagai bentuk karya ilmiah, meliputi penelitian empiris, artikel konseptual atau teoretis, systematic review, scoping review, critical literature review, pengembangan teknologi atau desain, analisis kebijakan, studi evaluasi, serta karya berbasis praktik. Extended abstract juga dapat dipertimbangkan untuk Student Research Forum. Abstrak disusun dalam bahasa Inggris dengan panjang sekitar 200–300 kata, mencakup latar belakang, tujuan, metode, temuan utama atau argumentasi, serta kontribusi penelitian. Setiap naskah akan melalui pemeriksaan administratif dan penilaian akademik oleh reviewer. Orisinalitas karya, relevansi dengan tema konferensi, kualitas metodologi atau argumentasi, interdisciplinarity, implikasi terhadap manusia dan masyarakat, serta kualitas penulisan menjadi bagian dari kriteria penilaian.
Bahasa Inggris akan menjadi bahasa utama untuk keynote speech, plenary panel, international call for papers, abstrak, serta sebagian besar sesi presentasi. Bahasa Indonesia dapat digunakan pada sesi tertentu dengan persetujuan panitia, sementara judul, abstrak, kata kunci, dan materi utama presentasi tetap disediakan dalam bahasa Inggris untuk menjaga aksesibilitas internasional.
Selain menjadi ruang diseminasi penelitian, ICIS 2026 diarahkan untuk memperkuat jejaring internasional, meningkatkan kapasitas publikasi dan presentasi akademik mahasiswa, membuka peluang penelitian bersama, serta menghasilkan rekomendasi akademik mengenai pengembangan dan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, inklusif, transparan, adil, dan berorientasi pada martabat manusia. Luaran yang direncanakan meliputi koleksi digital atau book of abstracts, prosiding ber-ISBN/e-ISBN atau bentuk publikasi akademik lainnya sesuai kesiapan penerbit dan proses seleksi editorial, rekomendasi akademik atau policy brief, dokumentasi konferensi, peningkatan kapasitas mahasiswa, serta pembentukan jaringan riset dan publikasi bersama. Melalui ICIS 2026, FISHUM dan Saintek UIN Sunan Kalijaga ingin memperkuat dialog antara perkembangan teknologi dengan persoalan mendasar mengenai manusia, pekerjaan, media, pendidikan, organisasi, dan keberlanjutan. Konferensi ini sekaligus menjadi ruang untuk membangun pengetahuan yang tidak hanya responsif terhadap percepatan perkembangan AI, tetapi juga kritis terhadap implikasinya bagi kehidupan manusia dan masyarakat.