Pro Kontra Islam Nusantara
Suasana Seminar Series : Pro Kontra Islam Nusantara
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakatarta mengadakan Seminar Series (21/11/2018). Seminar Series yang tereselanggara dan bekerja sama dengan Moeslim Global Affairs (MoGA) kali ini mengangkat tema Pro Kontra Islam Nusantara. Bertempat di ruang sidang lantai 2, seminar series kali ini diisi oleh Dr. Iswandi Syahputra, M.Si, Dosen Komunikasi FISHUM UIN Sunan Kalijaga dan Nur Kholik Ridwan, S.Ag., M.Ag., Dosen dari STAI PP Sunan Pandanaran sekaliguas Peneliti Psi UII serta dimoderatori oleh Sara Palila, M.A., Psikolog.
Dr. Mochamad Sodik S.Sos., M.Si menjelaskan bahwa Seminar Series yang diadakan di FISHUM bekerja sama dengan MoGA merupakan tradisi yang akan terus dikembangakan. “Tradisi seperti ini kalau di Fakultas Syariah sudah sangat kuat, makannya mereka bisa melahirkan orang-orang kuat. Di 2019 nanti, seminar series akan sering diadakan setiap bulannya. Nanti juga ada presentasi riset, baik riset dosen maupun mahasiswa. Bagaimanapun, tradisi intelektualism seperti seminar series seperti ini, harus dimulai sejak dini,” tutur Dekan FISHUM.
Dr. Iswandi Syahputra, M.Si, dalam presentasinya mengungkapkan adanya pro kontra terhadap kehadiran konsep Islam Nusantara. Berdasarkan penelitian yang beliau lakukan terkait tema ini di Sumatera Barat khususnya di kalangan para ulama ini masif terjadi di laman-laman Facebook. Titik singgung kajian Islam Nusantara menyangkut dua hal yakni sebagai gagasan dan sebagai praktik. Sebagai gagasan, Islam Nusantara mengalami benturan dengan ajaran Islam. Sedangkan sebagai praktik, Islam Nusantara memiliki titik singgung sebagai Proses sosial budaya, akulturasi masuknya Islam dan
budaya nusantara.
Alasan adanya Kontra dalam memahami kajian Islam Nusantara ialah ajaran Islam sudah kaffah dan sempurna, Islam Nusantara gagal gramatikal serta Islam Nusantara dianggap sebagai gerakan politik. Sedangkan masyarakat yang pro dengan kajian Islam Nusantara terkait dengan perjalanan falsafah Minangkabau. Antara lain ialah Adat bersandi patut, syara’bersandi dalil, Adat bersandi syara’, syara’besandi
adat, Adat bersandi syara', syara' bersandi Kitabullah (Traktat Marapalam), dan yang terakhi Syara’mangato, adat mamakai.
Sementara itu, Nur Kholik Ridwan, S.Ag., M.Ag., sebagai narasumber yang kedua menjelaskan bahwa Pro Kontra terjadap kajian Islam Nusantara itu bukan menjadi masalah. Karena itu memang fakta yang terjadi di masyarakat. “Ruang tertutup dalam Islam nusantara ialah kesepakatan para alim ulama. Tetapi memang itu tidak mudah bagi orang-orang yang hanya menganut Al-Quran dan Hadist. Karena tidak ditemukan ilmu-ilmu yang menuju ke situ,” jelasnya.
Menurutnya lagi, Islam Nusantara adalah Islam yang bersumber dari Kanjeng Nabi Muhammad, yang dipraktikkan, difahami, dan dikembangkan oleh para pendakwah Islam generasi awal di Nusantara, yang diteruskan hingga hari ini oleh generasi mereka. Beliau berpendapat bahwa, Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang telah lama mengkaji hal ini. Jadi tidak muncul secara instan. Di dalam proses memahani khasanah Islam Nusantara ini memang harus ada proses yang dilakukan.
Tidak hanya Dekan FISHUM, Seminar Series kali ini juga dihadiri oleh Dr. Yayan Suryana selaku Ketua MoGA, Dr. Sabarudin Wakil Dekan II Bidang Administrasi umum, Dr. Sulistyaningsih S.Sos., M.Si selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Dra. Budhi Susilowati Kabag Tata Usaha, Dosen-dosen serta mahasiswa. (tri)