Islamic Moderation in Java and Malay World : Historical, Sociological and Psychological Perspective
Sesi Foto Bersama
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan seminar series (21/02/2019). Seminar Series kali ini bekerjasama dengan MoGA (Moslem Global Affair Institute) dan didukung oleh Prodi Ilmu Komunikasi, Sosiologi dan Psikologi. Bertempat di Interactive Center FISHUM, tema yang diangkat dalam seminar kali ini ialah "Islamic Moderation in Java and Malay Worlds: Historical, Sociological and Psychological Perspectives" (Moderasi Islam di Jawa dan Melayu: Perspektif Historis, Sosiologis dan Psikologis).
Acara ini dibuka langsung oleh Prof. Dr. K.H Yudian Wahyudi, Ph.D., Rektor UIN Sunan Kalijaga. Dalam sambutan sekaligus membuka acara, Prof. Yudian menjelaskan bahwa ini merupakan salah satu program uggulannya. Yakni membangun Sunan Kalijaga Comparative Research Center, pengembangan dalam kajian keilmuan, keindonesiaan dan keislaman. Menurutnya Comparative Research Center (Pusat Penelitian Kompartif) menjadi penting. Hal ini tidak terlepas dari sejarah terbentuknya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural.
Selain Comparative Research Center, UIN juga mendorong semua Fakultas untuk membuat Jurnal di tingkat Internasional dan Konferensi Internasional. “Bring the best for Amerika, Now bring the best for Sunan Kalijaga,” tuturnya mengibaratkan sebuah istilah. Rektor UIN Sunan Kalijaga juga menghimbau kepada seluruh peserta untuk memanfaatkan sebaik-baiknya acara ini. Sebelum acara seminar series berlangsung, dilanjutkan dengan penyerahan LOI (Letter of Intent) oleh Prof. Dr. Fritz Schulze (George August Universitat Goettingen Germany) kepada Dekan FISHUM Dr. Mochamad Sodik S.Sos., M.Si.
Seminar kali ini diisi oleh beberapa narasumber. Prof. Dr. Fritz Schulze (George August Universitat Goettingen Germany), Achmad Zainal Arifin, M.A., Ph.D. Kaprodi Sosiologi, M. Johan Nasrul Huda, S.Psi., M.Si. Dosen Psikologi UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, seminar ini juga dimoderatori oleh Niken Puspitasari, S.I.P., M.A., Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Dalam materinya, Prof. Dr. Fritz menjelaskan mengenai Malay Historiography. Apabila dilihat dari sejarahnya, pada abad ke-19 sejarawan membaca teks-teks sejarah Melayu. Melayu tradisional memiliki pendekatan yang sama sekali berbeda dengan sejarah nasional. Semua teks ditulis ketika kerajaan Islam dan semua kerajaan ini berada di bawah kekuasaan seorang Raja yang disebut kerajaan.
Secara umum, sistem yang berlaku dalam kerajaan ialah sistem dinasti. Ada dua motiv yang kemudian berlaku, yakni motiv keturunan dan islam.Sementara itu, Achmad Zainal Arifin, M.A., Ph.D. dalam materinya menjelaskan mengenai Moderasi Islam di Jawa dan Melayu. Dalam dunia barat, penggunaan istilah moderasi biasanya berkaitan dengan norma-norma sosial liberal, hermeneutika, pluralisme politik, proses demokrasi. Selain itu juga kedekatan organisasi dan pandangan legitimasi negara atas monopoli kekerasan, semacam adaptasi, kesediaan untuk bekerja sama atau berkompromi.
Dalam dunia islam, moderasi diartikan dalam bahasa Arab sebagai "wasatiyyah". Kata ini identik dengan keadilan atau keseimbangan (al-adl), prestasi atau keunggulan (al-fadl), lebih baik (al-khairiyyah), median (al-bainiyyah). Kedua, dengan menggunakan makna tekstual dari kata "wasatiyyah" seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits, mis: wasatan dalam 2: 143; al-Usta dalam 2: 238; awsat dalam 5:89 & 68:28; wasatna dalam 100: 5.
M. Johan Nasrul Huda, S.Psi., M.Si., kali ini menambahkan terkait dengan Dinamika Religiusitas dan Kebangsaan pada Komunitas Muslim Yogyakarta. Berdasarkan catatan sejarah tentang kedatangan Islam di Indonesia, sebagian besar sejarawan sepakat bahwa tasawuf memiliki peran yang berpengaruh. Karakter Sufisme yang akomodatif dan toleran, yang dihasilkan dari fokus Sufisme yang lebih fokus pada aspek substantif daripada formal, telah menunjukkan moderat Islam melalui proses akulturasi dengan budaya lokal / Jawa.
Dalam presentasinya, M. Johan juga memaparkan terkait dengan gerakan dalam dunia Islam. Ada dua gerakan penting yang mengubah lanskap Islam yakni Pemurnian dan modern atau reformasi. Pemurnian mencoba menghapuskan semua aspek praktik Islam yang dianggap tidak memiliki sumber dalam teks ortodoks, seperti Wahhabisme. Sedangkan Modern / Reformasi, yang menempatkan masyarakat Barat sebagai model peran untuk mengembangkan umat Islam, seperti: Muslim Brotherhood (IM).
Tidak hanya ketiga narasumber dan peserta, terlihat hadir pula dalam acara ini Dekan FISHUM Dr. Mochamad Sodik S.Sos., M.Si., Wakil Dekan II Bidang Administrasi Dr. Sabarudin, M.Si., Wakil Dekan III Bidang kemahasiswaan Dr. Sulistyaningsih S.Sos., M.Si. Selain itu, hadir juga Kaprodi Ilmu Komunikasi Drs. Siantari Rihartono, M.Si, Sekprodi Ilmu Komunikasi Dr Yani Tri Wijayanti,S.Sos,M.Si, Sekprodi sosiologi Dr Napsiah,S.Sos,M.Si.,Kaprodi Psikologi Retno Pandan Arum Kusumowardhani, S.Psi,M.Si,Psi., Ketua MoGA: Dr Yayan Suryana,M.Ag., Ketua International Office UIN SUKA: Achmad Uzair,S.I.P,M.A,Ph.D., serta beberapa tamu undangan. (ines)