Dilihat 0 Kali

07_760_WhatsApp Image 2026-06-12 at 11.02.42.jpeg
FISHUM UIN Sunan Kalijaga Perkuat Jejaring Nasional dalam Simposium FORDEKIIS 2026

Jumat, 12 Juni 2026 07:11:00 WIB

FISHUM UIN Sunan Kalijaga Perkuat Jejaring Nasional dalam Simposium FORDEKIIS 2026

 Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berpartisipasi dalam Simposium Forum Dekan Ilmu-Ilmu Sosial se-Indonesia (FORDEKIIS) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada di Auditorium UGM Kampus Jakarta. Forum nasional ini mempertemukan para dekan dan pimpinan fakultas dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia untuk membahas arah masa depan tata kelola pendidikan tinggi dalam bidang ilmu-ilmu sosial. Mengusung tema “Tata Kelola Pendidikan Tinggi yang Berkualitas dan Berdampak,” simposium ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat jejaring akademik, berbagi praktik baik kelembagaan, serta merumuskan respons bersama terhadap tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks. Tantangan tersebut mencakup transformasi digital, perkembangan pesat kecerdasan buatan, perubahan dinamika global, serta meningkatnya tuntutan agar perguruan tinggi mampu menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta diwakili oleh Dr. Rama Kertamukti, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama. Kehadiran beliau mencerminkan komitmen kelembagaan FISHUM dalam memperluas kerja sama akademik, memperkuat pengembangan kemahasiswaan, serta meningkatkan peran ilmu sosial dan humaniora dalam merespons persoalan-persoalan masyarakat kontemporer. Bagi FISHUM UIN Sunan Kalijaga, partisipasi dalam FORDEKIIS 2026 memiliki arti penting. Sebagai fakultas yang mengembangkan disiplin ilmu sosial dan humaniora dalam lingkungan perguruan tinggi Islam, FISHUM memiliki posisi khas dalam mengintegrasikan kajian sosial modern, nilai-nilai humanistik, perspektif etika Islam, dan tanggung jawab kebangsaan. Orientasi integratif ini semakin relevan ketika perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga memproduksi pengetahuan, refleksi kritis, dan inovasi sosial.

Forum ini juga berfungsi sebagai ruang konsolidasi kelembagaan antar-fakultas ilmu sosial di Indonesia. Melalui pertemuan tersebut, para pimpinan fakultas dapat bertukar pengalaman mengenai tata kelola akademik, pengembangan kurikulum, pengelolaan riset, urusan kemahasiswaan, kerja sama nasional dan internasional, serta strategi adaptasi terhadap disrupsi teknologi. Dalam jangka panjang, FORDEKIIS diharapkan dapat berkontribusi pada agenda nasional bersama untuk memperkuat peran ilmu-ilmu sosial dalam merespons isu ketimpangan sosial, tata kelola demokrasi, komunikasi publik, kesejahteraan masyarakat, keberagaman budaya, dan literasi digital.Salah satu bagian penting dalam simposium ini adalah kesempatan untuk mendengarkan pandangan Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sebagai mantan Dekan FISIP UGM, Prof. Pratikno membagikan refleksi mengenai kepemimpinan akademik, tata kelola kelembagaan, serta pentingnya pengembangan pendidikan tinggi yang mampu menghasilkan dampak bermakna bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Dalam paparannya, Prof. Pratikno menekankan bahwa kepemimpinan dalam pendidikan tinggi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan membangun visi kelembagaan, memperkuat sistem tata kelola, dan memastikan bahwa pendidikan tidak berhenti pada capaian administratif semata. Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan pengetahuan yang menjawab kebutuhan publik, mendukung tata kelola yang lebih baik, serta berkontribusi pada pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan FISHUM UIN Sunan Kalijaga. Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, fakultas dituntut untuk membangun sistem tata kelola yang tidak hanya bersifat regulatif dan prosedural, tetapi juga berorientasi secara substantif pada kualitas akademik dan relevansi publik. Pendidikan yang berkualitas harus tercermin dalam kurikulum yang relevan, pembelajaran yang partisipatif, riset yang kuat, budaya akademik yang etis, serta pengabdian kepada masyarakat yang bertumpu pada kebutuhan sosial nyata.

Simposium ini juga menghadirkan Prof. Stella Christie, Ph.D., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Akademisi dari Tsinghua University tersebut memaparkan gagasan mengenai pengembangan talenta unggul Indonesia, penguatan budaya riset, inovasi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan. Paparan tersebut menegaskan pentingnya kesiapan perguruan tinggi Indonesia dalam menghadapi perubahan teknologi dengan tetap menjaga integritas intelektual dan tanggung jawab sosial.Dalam konteks ilmu sosial dan humaniora, pemanfaatan kecerdasan buatan tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis. Kecerdasan buatan membawa implikasi epistemologis, etis, sosial, dan kultural yang perlu dikaji secara kritis. Di satu sisi, AI menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mendukung analisis data sosial, memperkuat layanan akademik, dan memperluas akses terhadap pengetahuan. Di sisi lain, AI juga memunculkan persoalan serius terkait bias algoritmik, privasi data, kesenjangan akses teknologi, integritas akademik, serta perubahan relasi antara manusia, pengetahuan, dan mesin.

Karena itu, keterlibatan FISHUM UIN Sunan Kalijaga dalam forum nasional seperti FORDEKIIS menjadi penting untuk memastikan bahwa diskusi mengenai transformasi digital tidak hanya didominasi oleh pendekatan teknologis. Diskusi tersebut juga perlu memuat perspektif sosial, humanistik, etis, dan kultural. Ilmu sosial dan humaniora memiliki peran penting dalam mengkaji dampak teknologi terhadap masyarakat, mempertanyakan relasi kuasa di balik produksi pengetahuan digital, serta merumuskan pendekatan penggunaan teknologi yang lebih manusiawi dan berkeadilan. Partisipasi Dr. Rama Kertamukti juga menegaskan perhatian FISHUM terhadap bidang kemahasiswaan dan kerja sama kelembagaan. Dalam transformasi pendidikan tinggi saat ini, mahasiswa tidak lagi dapat diposisikan semata-mata sebagai penerima layanan akademik. Mahasiswa merupakan aktor penting dalam inovasi, jejaring sosial, pengabdian masyarakat, dan produksi pengetahuan. Oleh sebab itu, tata kelola kemahasiswaan perlu diarahkan pada pengembangan karakter akademik, kepemimpinan sosial, literasi digital, komunikasi etis, dan kolaborasi interdisipliner.Sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dr. Rama Kertamukti merepresentasikan komitmen FISHUM dalam membangun ekosistem akademik yang mendukung kreativitas, kesejahteraan mahasiswa, pengembangan kapasitas, dan partisipasi bermakna. Komitmen ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan tinggi kontemporer yang menuntut perguruan tinggi menyediakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, produktif, dan adaptif. Mahasiswa perlu dibekali bukan hanya dengan pengetahuan teoretis, tetapi juga kemampuan memecahkan masalah, memahami realitas sosial, berkomunikasi secara etis, dan bekerja dalam lingkungan yang semakin digital.

FORDEKIIS 2026 juga membuka peluang untuk memperkuat kerja sama antarperguruan tinggi. Bagi FISHUM UIN Sunan Kalijaga, jejaring nasional ini dapat menjadi pintu masuk bagi kolaborasi dalam pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, publikasi akademik, pengembangan kurikulum, pengabdian kepada masyarakat, serta forum akademik lintas kampus. Kolaborasi semacam ini semakin dibutuhkan karena banyak persoalan sosial tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu atau satu institusi saja. Kemiskinan, intoleransi, disinformasi, kerentanan generasi muda, konflik sosial, dan ketimpangan digital membutuhkan pendekatan interdisipliner serta kemitraan kelembagaan yang kuat.

Dalam forum tersebut, para peserta juga membahas pentingnya praktik baik dalam tata kelola pendidikan tinggi. Hal ini mencakup penguatan sistem penjaminan mutu, pengelolaan sumber daya manusia akademik, pengembangan atmosfer akademik yang sehat, integrasi riset dan pembelajaran, serta pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan. Bagi fakultas ilmu sosial, tata kelola yang baik juga berarti menjaga kebebasan akademik, memperkuat etika riset, dan memastikan bahwa perguruan tinggi tetap menjadi ruang dialog yang kritis dan bertanggung jawab. FISHUM UIN Sunan Kalijaga memandang tema “kualitas dan dampak” sebagai agenda yang perlu diterjemahkan ke dalam pengembangan kelembagaan secara konkret. Kualitas tidak seharusnya hanya diukur melalui indikator administratif, tetapi juga melalui kedalaman proses akademik, integritas riset, kompetensi lulusan, dan relevansi kontribusi fakultas bagi masyarakat. Sementara itu, dampak tidak semestinya dipahami sekadar sebagai keluaran kuantitatif, melainkan sebagai perubahan sosial bermakna yang dapat dirasakan oleh komunitas, institusi, dan publik luas. Dalam kerangka tersebut, FISHUM UIN Sunan Kalijaga terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan ilmu sosial dan humaniora yang inklusif, kritis, dan transformatif. Partisipasi dalam FORDEKIIS 2026 menjadi bagian dari proses pembelajaran kelembagaan: menyerap pengalaman dari perguruan tinggi lain sekaligus menghadirkan perspektif khas UIN Sunan Kalijaga dalam pengembangan pendidikan tinggi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial. Melalui forum ini, FISHUM UIN Sunan Kalijaga menegaskan kembali pentingnya sinergi nasional dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi. Di era yang ditandai oleh percepatan teknologi dan ketidakpastian global, perguruan tinggi tidak dapat bekerja secara terpisah. Perguruan tinggi membutuhkan kolaborasi, inovasi, keterbukaan kelembagaan, serta komitmen kuat untuk menjaga kualitas akademik dan relevansi sosial.

Simposium FORDEKIIS 2026 dengan demikian menjadi momentum penting bagi fakultas-fakultas ilmu sosial di Indonesia untuk memperkuat peran strategisnya dalam membentuk masa depan pendidikan tinggi. Bagi FISHUM UIN Sunan Kalijaga, forum ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan kesempatan berharga untuk membangun jejaring, bertukar gagasan, dan berkontribusi pada pengembangan pendidikan tinggi yang adaptif, akuntabel, dan berdampak bagi bangsa.