YOGYAKARTA – Fakultas Ilmu
Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga sukses menyelenggarakan Studium
Generale bertajuk "Dari Narasi ke Kebijakan: Demokrasi, Bisnis, dan
Negara dalam Transisi Energi di Era Digital" pada Kamis, 3 September 2026.
Bertempat di Gedung Convention Hall Lantai 2, kegiatan akademik ini dihadiri
oleh kurang lebih 560 mahasiswa baru FISHUM angkatan 2026 yang berasal dari
tiga program studi, yakni Ilmu Komunikasi, Psikologi, dan Sosiologi.
Acara dibuka secara resmi oleh
Dekan FISHUM, Prof. Dr. Erika Setyanti Kusumaputri, S.Psi., M.Si. Memasuki
agenda utama, sesi pemaparan materi inti dipandu secara interaktif oleh
moderator Rahmah Attaymini, S.I.Kom., M.A., yang merupakan dosen Ilmu Komunikasi
UIN Sunan Kalijaga.
Dalam pemaparannya, Prof. Nyarwi
Ahmad, Ph.D. menyoroti fenomena personalisasi narasi politik di Indonesia yang
berakibat pada tenggelamnya isu-isu substantif dalam demokrasi. Ia menegaskan
bahwa dominasi elite dan maraknya penggunaan buzzer politik telah
meminggirkan peran kaum intelektual serta membuat kelas menengah semakin
kehilangan daya tawar politiknya.
Melengkapi perspektif tersebut,
Dr. Bono Setyo, M.Si. membedah dinamika komunikasi pejabat publik di ekosistem
digital yang kini sangat ditentukan oleh kecepatan, kedekatan, dan keterbukaan.
Ia mengingatkan pentingnya memisahkan komunikasi politik dan komunikasi publik,
di mana pejabat publik di era digital harus mampu menjadi "arsitek
kepercayaan" melalui narasi yang didukung bukti, kompetensi, dan empati
guna meminimalisasi risiko misinformasi maupun polarisasi.
Sementara itu, Indri Dwi
Apriliyanti, Ph.D. memaparkan analisisnya terkait tata kelola dan tarik-ulur
kebijakan transisi energi di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa lambatnya
dekarbonisasi sering kali disebabkan oleh resistensi aktor institusional yang kuat
dan lebih mementingkan status quo ekonomi. Indri membedah empat narasi utama
yang kerap digunakan pemerintah untuk menjustifikasi penundaan kebijakan iklim,
yakni developmentalism atau hak untuk membangun, new colonialism yang
menolak standar negara maju, pragmatisme ekonomi, serta green extractive
industrialism yang melegitimasi eksploitasi mineral transisi seperti nikel.
Kegiatan ini berlangsung dinamis
yang ditandai dengan antusiasme tinggi dari para mahasiswa baru saat aktif
mengajukan berbagai pertanyaan kritis kepada narasumber pada sesi diskusi.
Melalui agenda Studium Generale ini, diharapkan seluruh mahasiswa baru
FISHUM dapat memperluas wawasan akademik, membangun nalar kritis, serta lebih
tanggap dalam merespons dinamika sosial, komunikasi, dan kebijakan publik di
era digital. (K.Ind)