Jejak Ilmu di Ruang Waktu Terinspirasi dari slogan “Empowering Knowledge, Shaping the Future”

Suasana Ruang IC Fishum UIN Sunan Kalijaga pagi itu penuh sesak oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi. Poster besar dengan slogan “Empowering Knowledge, Shaping the Future” terpampang megah di panggung utama. Hari itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) menyelenggarakan pertemuan ilmiah tahunan bertema “Peran Generasi Muda dalam Membangun Masa Depan Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Humaniora.”

Alif, mahasiswa Sosiologi semester lima, berdiri di barisan peserta dengan ransel lusuh berisi lembaran-lembaran makalah yang telah ia susun berminggu-minggu. Meski ia tampak tenang dari luar, di dalam dadanya, degup jantungnya berpacu lebih cepat. Ini adalah kali pertama ia berani mempresentasikan penelitiannya dalam forum sebesar ini.

“Tenang, Lif. Kamu pasti bisa,” bisik Zahra, sahabatnya dari jurusan Psikologi yang akan tampil setelahnya. “Ingat, ilmu yang kamu bawa ini bukan hanya untuk kamu sendiri, tapi bisa jadi jembatan buat orang lain.”

Alif mengangguk kecil. Kata-kata Zahra seperti menghidupkan slogan di panggung itu: Empowering Knowledge. Ya, ilmunya bukan hanya miliknya, melainkan tanggung jawab untuk berbagi.

Pertemuan ilmiah itu dibuka dengan orasi ilmiah dari seorang dosen senior. Suaranya tenang namun penuh penekanan. “Kita hidup di era yang menuntut lebih dari sekadar penguasaan ilmu. Kita harus tahu bagaimana mengaplikasikan ilmu tersebut untuk membentuk masa depan yang lebih baik. Generasi muda seperti kalian adalah ujung tombak perubahan,” ucapnya diiringi tepuk tangan meriah.

Setelah sesi orasi, giliran para peserta terpilih yang mempresentasikan makalah mereka. Alif menggenggam naskahnya erat ketika namanya dipanggil. Dengan langkah hati-hati, ia naik ke panggung. Di hadapannya, puluhan pasang mata menatap penuh harap.

“Selamat pagi, Bapak, Ibu, dan teman-teman sekalian,” ucap Alif membuka presentasinya. Suaranya sedikit bergetar, tetapi ia berusaha menguasai diri. “Penelitian saya berjudul ‘Fenomena Urbanisasi dan Tantangan Keadilan Sosial di Kota-Kota Besar’.

Dalam pemaparannya, Alif menjelaskan bagaimana urbanisasi yang tidak terencana sering kali memperparah kesenjangan sosial. Dengan data lapangan yang ia kumpulkan dari perkampungan di pinggir Yogyakarta, Alif menawarkan solusi sederhana: pendekatan berbasis komunikasi komunitas dengan pemberdayaan ekonomi lokal.

Di barisan depan, seorang dosen tersenyum puas. Alif menutup presentasinya dengan kalimat, “Saya percaya, melalui ilmu komunik yang kita pelajari, kita bisa membantu masyarakat menemukan solusi untuk permasalahan sosial yang dihadapi. Karena ilmu bukan hanya teori, tetapi alat untuk membentuk masa depan.”

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Alif tersenyum lega dan kembali ke tempat duduknya. “Gila, Lif! Keren banget,” bisik Zahra sambil mengepalkan tangan.

Setelah Alif, giliran Zahra yang maju. Zahra, mahasiswa Psikologi, membawakan penelitian bertema “Kesehatan Mental Remaja dalam Menghadapi Tekanan Akademik dan Sosial.” Dengan suara lembut namun tegas, ia menjelaskan bagaimana kesehatan mental sering kali terabaikan di kalangan remaja.

“Saat ini, banyak remaja yang kehilangan arah akibat tekanan sosial dan akademik. Sebagai mahasiswa Psikologi, tugas kita adalah memahami, mendampingi, dan menemukan solusi terbaik untuk membantu mereka,” ujar Zahra.

Ia menawarkan konsep counseling group yang berbasis pendekatan psikologi positif dan pelatihan self-awareness di sekolah-sekolah. “Dengan pendekatan ini, kita bisa menciptakan generasi muda yang lebih sehat secara mental, siap membentuk masa depan dengan lebih optimis.”

Setelah Zahra, Laila, mahasiswa Ilmu Komunikasi, tampil dengan penuh percaya diri. Penelitiannya bertajuk “Optimalisasi Media Sosial untuk Kampanye Edukasi di Pedesaan.” Laila memaparkan bagaimana media sosial, jika dimanfaatkan dengan benar, bisa menjadi alat edukasi yang efektif di daerah-daerah terpencil.

“Kita sering menganggap teknologi sebagai ancaman, padahal teknologi adalah alat yang bisa kita gunakan untuk mencerdaskan bangsa,” ujar Laila semangat. Dengan video singkat hasil kampanye edukasi yang pernah ia buat, audiens terpukau dan menyadari bahwa komunikasi adalah jembatan penting untuk menyebarkan ilmu.

Pertemuan ilmiah itu berakhir dengan suasana hangat dan penuh inspirasi. Para peserta berbagi ide, saling berkenalan, dan berdiskusi di setiap sudut aula. Alif, Zahra, dan Laila berkumpul di bawah poster besar yang selama ini mereka lihat sebagai simbol fakultas mereka.

“Jadi, kita berhasil ya?” tanya Alif sambil memandang kedua temannya.

“Bukan cuma berhasil. Kita sudah membuktikan bahwa ilmu kita punya nyawa,” jawab Zahra sambil tersenyum.

Laila menimpali, “Betul. Ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang bagaimana ilmu kita bisa membentuk masa depan, sekecil apa pun langkah yang kita buat.”

Mereka bertiga memandang slogan di atas panggung itu sekali lagi: “Empowering Knowledge, Shaping the Future.” Kini, kalimat itu tidak lagi sekadar rangkaian kata yang indah. Bagi mereka, itu adalah komitmen yang harus terus dijalankan.

Dalam hati, Alif berbisik, “Hari ini, langkah kecil sudah kita buat. Esok, ilmu ini akan tumbuh menjadi cahaya yang lebih besar.”

Sore itu, mereka melangkah keluar dari ruangan IC Fishum dengan hati penuh harapan. Pertemuan ilmiah hari ini adalah awal dari perjalanan panjang. Ilmu yang mereka miliki bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan. Karena ilmu yang memberdayakan adalah ilmu yang terus bergerak, membentuk masa depan yang lebih baik. (Rama)

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler